Kota Sibolga masih berusaha bangkit dari bencana. Longsor dan banjir meninggalkan jejak yang dalam, bukan hanya di jalanan yang rusak, tapi juga di hati warga yang kehilangan. Dalam situasi sulit itu, sejumlah minimarket justru menjadi sasaran penjarahan. Pelakunya? Mereka yang disebut-sebut sebagai korban bencana yang belum mendapat bantuan.
Polisi pun bergerak cepat. Tak lama setelah kejadian, 16 orang berhasil diamankan terkait aksi itu.
“Satreskrim Polres Sibolga telah mengamankan 16 orang pelaku yang terlibat dalam aksi penjarahan di beberapa minimarket,” jelas Kasat Reskrim Polres Sibolga, AKP Rustam E Silaban, pada Minggu (30/11/2025).
Namun begitu, penangkapan ini justru memantik perdebatan lain. Banyak suara muncul, mendesak agar ke-16 warga itu tidak diproses hukum. Alasannya beragam, tapi intinya satu: pertimbangan kemanusiaan.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumatera Utara termasuk yang bersuara lantang. Mereka meminta polisi mempertimbangkan sisi lain dari kasus ini. Para pelaku, kata mereka, sebagian besar masih sangat muda dan punya tanggungan keluarga.
Permintaan itu disampaikan oleh salah satu pengurus IDAI Sumut, dr. Rizky Adriansyah Sp.A. Ia menyoroti kondisi para tersangka yang ternyata harus menafkahi anak dan istri.
“Mereka punya keluarga, anak, istri, yang harus mereka nafkahi. IDAI Sumut bersedia memediasi dengan pemilik minimarket dan jika perlu mengganti berapa yang dicuri ke 16 orang tersebut,” ujar dr. Rizky kepada Waspada, Selasa (2/12/2025).
Baginya, menahan mereka justru bisa jadi bumerang. Kondisi keluarga, terutama anak-anak yang sudah terdampak bencana, bisa makin terpuruk tanpa penopang ekonomi.
“Kami meminta warga tersebut tidak ditahan,” tegasnya.
Di sisi lain, kasus ini juga ramai diperbincangkan netizen. Sorotan mereka tajam, penuh dengan perbandingan yang pedas. Mereka mempertanyakan, mengapa warga kecil yang terdesak bisa langsung ditangkap, sementara penjarah hutan skala besar seolah bebas berkeliaran, bahkan dikabarkan asyik main domino dengan pejabat tinggi.
Gambar yang beredar di media sosial pun seolah mengukuhkan keluhan itu, menunjukkan kontras yang menyakitkan. Situasinya memang rumit, mempertemukan antara hukum yang harus ditegakkan dan rasa kemanusiaan yang tak bisa diabaikan.
Artikel Terkait
Ruben Onsu Kecam Pembiarkan Thalia Live Baca Komentar, Khawatirkan Lingkungan Tumbuh Anak
Komisi IV DPR Apresiasi Kinerja Mentan Amran Stabilkan Harga Sawit, Telur, dan Ayam
Mahfud MD Desak Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis Dirombak Total Usai Tiga Petinggi BGN Ditangkap
PSM Makassar Tunjuk Kembali Darije Kalezic sebagai Pelatih Kepala untuk Musim 2026/2027