“Mereka punya keluarga, anak, istri, yang harus mereka nafkahi. IDAI Sumut bersedia memediasi dengan pemilik minimarket dan jika perlu mengganti berapa yang dicuri ke 16 orang tersebut,” ujar dr. Rizky kepada Waspada, Selasa (2/12/2025).
Baginya, menahan mereka justru bisa jadi bumerang. Kondisi keluarga, terutama anak-anak yang sudah terdampak bencana, bisa makin terpuruk tanpa penopang ekonomi.
“Kami meminta warga tersebut tidak ditahan,” tegasnya.
Di sisi lain, kasus ini juga ramai diperbincangkan netizen. Sorotan mereka tajam, penuh dengan perbandingan yang pedas. Mereka mempertanyakan, mengapa warga kecil yang terdesak bisa langsung ditangkap, sementara penjarah hutan skala besar seolah bebas berkeliaran, bahkan dikabarkan asyik main domino dengan pejabat tinggi.
Gambar yang beredar di media sosial pun seolah mengukuhkan keluhan itu, menunjukkan kontras yang menyakitkan. Situasinya memang rumit, mempertemukan antara hukum yang harus ditegakkan dan rasa kemanusiaan yang tak bisa diabaikan.
Artikel Terkait
Keluarga di Pondok Bambu Masih Berdoa untuk Yoga, Operator Foto Udara di Pesawat Hilang Kontak
Damaskus Umumkan Gencatan Senjata Penuh dengan Pasukan Kurdi
Tiga Penerbangan Modifikasi Cuaca Diterbangkan untuk Tahan Banjir Jakarta
Gerakan Rakyat Resmi Berkibar Jadi Partai, Sahrin Hamid Pimpin Transformasi