IHSG Terganjal di Level 8.970, Koreksi Sehat Mengintai

- Senin, 12 Januari 2026 | 07:10 WIB
IHSG Terganjal di Level 8.970, Koreksi Sehat Mengintai

IHSG berpeluang bergerak variatif hari ini. Analis memproyeksikan pergerakan indeks bakal berada di kisaran 8.900 hingga 9.000, setelah sebelumnya sempat mencoba sentuh level psikologis itu.

William Hartanto, praktisi pasar modal dan founder WH-Project, melihat ada resistensi yang terbentuk. Level 9.000 memang belum bisa ditembus dengan mantap.

"IHSG membentuk resistance pada level 8.970. Ini terbentuk selama tiga candle terakhir, sejak IHSG gagal bertahan di level 9.000," jelas William dalam risetnya, Senin (12/1/2026).

Catatan dari perdagangan Jumat lalu, IHSG memang masih ditutup di zona hijau. Penguatan tipis 0,13 persen atau 11,28 poin membawa indeks ke posisi 8.936,75. Tapi, momentum itu tampaknya perlu diimbangi dengan kehati-hatian.

Menurut William, kondisi saat ini mengindikasikan jenuh beli. Artinya, koreksi sehat sangat mungkin terjadi. Namun begitu, ini bukan pertanda awal downtrend atau tren turun berkepanjangan. Hanya saja, tekanan bisa datang dari beberapa emiten besar.

"Beberapa saham big caps berpotensi menekan IHSG. Misalnya saham dari konglomerat grup Prajogo Pangestu, ditambah big caps perbankan," katanya.

Pola tiga candlestick yang membentuk resistensi di 8.970 itu menjadi sinyal teknis utama. Di level ini, pasar terlihat lelah. Nah, koreksi yang dimaksud kemungkinan besar dipicu oleh aksi ambil untung di saham-saham besar tadi, khususnya dari grup Barito milik Prajogo Pangestu.

Di sisi lain, bukan berarti tidak ada peluang sama sekali. William justru melihat beberapa sektor masih menarik untuk dipertimbangkan di awal pekan.

"Beberapa saham sektor tambang dan energi masih bisa jadi pilihan," ujarnya.

Berdasarkan analisis teknikal, berikut sejumlah rekomendasi saham untuk perdagangan hari ini: HRUM dengan target Rp1.200-Rp1.300, NICL (target Rp2.000), ESSA (target Rp640-Rp680), dan SMGR yang diproyeksi menuju Rp2.740-Rp2.800. Semua rekomendasi tersebut berisi sinyal beli.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar