Di sisi lain, kedatangan durian kita ini juga punya dampak strategis. Ia mendukung pengembangan Pusat Perdagangan Buah China-ASEAN di Qinzhou. Kawasan itu kini jadi hub utama buah-buahan Asia Tenggara, dilengkapi fasilitas pemeriksaan cepat dan sistem logistik yang efisien. Artinya, prosesnya lebih cepat, biaya mungkin bisa ditekan.
Fakta lain, sepanjang tahun lalu Pelabuhan Qinzhou sudah membuka 44 rute pelayaran ke negara ASEAN. Dan di 2026, dengan dibukanya Terusan Pinglu, posisinya bakal makin strategis. Proyeksinya, biaya logistik produk pertanian dari ASEAN bisa turun signifikan, bahkan sampai 30 persen. Peluang yang terbuka lebar.
Bagi Sahat, peran karantina jauh lebih dari sekadar penjaga pintu. “Karantina tidak hanya berfungsi mencegah masuk dan keluarnya risiko hayati, tetapi juga menjadi instrumen strategis untuk membuka akses pasar ekspor dan meningkatkan daya saing produk pertanian Indonesia,” tegasnya.
Ia pun optimis. Pijakan dari keberhasilan durian beku ini akan membuka jalan bagi produk pertanian Indonesia lainnya.
“Capaian ini menjadi pijakan untuk memperluas ekspor produk pertanian Indonesia lainnya, dengan dukungan sistem karantina yang kuat dan kerja sama internasional yang berkelanjutan,”
imbuhnya. Sebuah langkah awal yang menjanjikan, tinggal menunggu langkah selanjutnya.
Artikel Terkait
BEI Dibanjiri Emisi Baru, IHSG Nyaris Sentuh 9.000 di Awal 2026
Stok Beras dan Minyak Goreng di Aceh Aman Jelang Ramadan, Bulog Pastikan Tak Ada Kelangkaan
Dari Reruntuhan Pasar Klewer, Dewi Aminah Bangun Kerajaan Bumbu dan Inspirasi
OJK Siapkan Aturan Free Float Baru, Pasar Modal Bakal Diguncang Mulai 2026