Triliunan Yen Terkunci di Rekening Lansia Jepang, Ancaman Diam bagi Ekonomi

- Minggu, 04 Januari 2026 | 10:30 WIB
Triliunan Yen Terkunci di Rekening Lansia Jepang, Ancaman Diam bagi Ekonomi

Tekanan ini pada akhirnya bisa membebani negara. Lansia yang kehilangan aset akan lebih bergantung pada bantuan sosial dan layanan kesehatan publik. Itu sebabnya industri keuangan Jepang mulai berbenah. Bank dan perusahaan sekuritas kini meluncurkan berbagai rekening dan skema perwalian berbasis dukungan keluarga. Tujuannya, agar aset lansia tetap terkelola sebelum kondisi kognitif mereka memburuk. Tapi solusi ini tak selalu mudah, terutama bagi mereka yang hidup sebatang kara atau tidak punya ahli waris yang jelas.

Di sisi lain, para pembuat kebijakan juga mulai bergerak. Sebuah subkomite di Kementerian Kehakiman sedang meninjau undang-undang perwalian orang dewasa. Mereka berupaya membuat aturan yang lebih sederhana dan fleksibel. Bahkan, amandemennya bisa diajukan tahun ini. Intinya, aturan baru ini memungkinkan keluarga mengambil alih kendali hukum atas keuangan kerabat jika demensia menyerang.

Perubahan ternyata berlangsung cukup cepat, terutama di daerah pedesaan di mana dampak penuaan penduduk paling terasa. Kagawa Securities Co. di wilayah Shikoku, misalnya, meluncurkan rekening dukungan keluarga pada September lalu. Permintaannya jauh melampaui ekspektasi.

Begitu pula dengan Imamura Securities Co. yang baru merilis layanan serupa. Hisano Ohara, kepala pengendalian internal perusahaan itu, mengaku kini menerima pertanyaan dari luar tiga prefektur wilayah layanan mereka. “Individu dengan kekayaan tinggi tampaknya sangat tertarik,” katanya.

Teruo sendiri sudah mendaftar di layanan Imamura pada 2024. Ia sudah berbicara terbuka dengan anak-anaknya tentang masa depan pengelolaan keuangannya. Putranya kini ditunjuk sebagai wali rekening, yang akan otomatis mengambil alih jika Teruo suatu hari nanti tak lagi mampu.

Untuk saat ini, ia masih tetap menjadi investor yang aktif, meski dengan gaya lama. Ia mempercayakan pengelolaan harian pada Imamura, tapi sesekali masih menelepon untuk bertransaksi saham biasanya setelah membaca berita menarik di koran lokal. Teruo tetap skeptis pada internet dan kecerdasan buatan. Kekhawatirannya punya dasar: data pemerintah menunjukkan lansia menyumbang 65 persen dari total kerugian penipuan senilai USD 462 juta di Jepang pada 2024.

Risiko keuangan akibat penuaan ini memang sering datang perlahan, seperti tetesan yang melubangi batu. Jing Li, seorang Ekonom Kesehatan di University of Washington, menjelaskan bahwa sejak sekitar usia 65 tahun, penurunan bertahap fungsi otak bisa menggerogoti daya ingat dan penilaian. Ujung-ujungnya? Pengambilan keputusan keuangan yang kacau.

Kerentanan itu akan semakin dalam seiring demensia. Pada 2040, diperkirakan 5,8 juta orang di Jepang atau 15 persen populasi usia 65 tahun ke atas akan terdampak. Sebuah tantangan besar yang harus dijawab, bukan hanya oleh keluarga, tapi oleh seluruh bangsa.


Halaman:

Komentar