Pembukaan perdagangan tahun 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin, Jumat (2/1), tak hanya diwarnai harapan. Ada catatan evaluasi yang disampaikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) soal kinerja bursa di tahun sebelumnya. Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, yang hadir di Gedung BEI, menyoroti beberapa hal yang dinilai masih perlu perbaikan serius.
Mahendra mengakui Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang menguat. Tapi, ada cerita lain di balik angka itu. Menurutnya, kinerja saham-saham utama yang kerap jadi patokan para fund manager global justru belum sejalan.
"Kita juga melihat bahwa masih banyak ruang perbaikan yang harus dilakukan," ujar Mahendra.
"Indeks LQ45 yang berisi saham-saham perusahaan terbesar dan menjadi rujukan investasi fund manager global maupun domestik hanya tumbuh 2,41 persen. Jauh di bawah kenaikan IHSG," jelasnya.
Soal kedalaman pasar modal kita pun jadi bahan evaluasi. Memang, kontribusi pasar saham terhadap PDB naik signifikan jadi 72 persen di akhir 2025, dari sebelumnya 56 persen setahun lebih awal. Pencapaian ini patut diapresiasi. Namun begitu, bila dibandingkan dengan tetangga-tetangga di kawasan, rasio kita masih ketinggalan.
"Sekalipun demikian, angka itu masih berada di bawah negara-negara di kawasan kita," kata Mahendra.
"Seperti India 140 persen, Thailand 101 persen, dan Malaysia 97 persen dari PDB mereka masing-masing. Yang artinya, potensi pengembangan masih lebih besar lagi," imbuhnya.
Artikel Terkait
PT Palapa Ring Barat Tunjuk Hekal Syamsuddin Yahya sebagai Direktur Baru
NCKL Habiskan Dana IPO Rp9,99 Triliun untuk Pelunasan Utang dan Ekspansi Bisnis
Folago Global Nusantara (IRSX) Cetak Laba Bersih Rp25,3 Miliar, Melonjak 4.768% di 2025
IHSG Anjlok 1,25% Diterpa Sentimen Serangan AS ke Iran