Perusahaan manajemen risiko maritim Vanguard asal Inggris mengidentifikasi kapal yang dicegat itu kemungkinan adalah MT Centuries berbendera Panama. Lokasi pencegatan terjadi di sebelah timur Barbados, di tengah Laut Karibia.
Dampak Blokade dan Pasar yang Menegang
Sejak Presiden Donald Trump memerintahkan blokade total terhadap kapal tanker yang kena sanksi di Venezuela, efeknya langsung terasa. Ekspor minyak mentah Venezuela anjlok drastis. Banyak kapal yang memuat minyak memilih untuk tetap diam di perairan, takut disita, daripada berlayar mengambil risiko.
Ini jadi persoalan serius bagi pasokan. China, sebagai pembeli terbesar minyak Venezuela, yang impornya sekitar 4 persen dari negeri itu, bisa terkena imbas. Pengiriman ke China biasanya mencapai lebih dari 600.000 barel per hari. Kalau embargo ini berlangsung lama, hilangnya pasokan hampir sejuta barel per hari bisa mendongkrak harga minyak global lebih tinggi lagi.
Memang, saat ini pasokan di pasar masih terlihat cukup. Ada jutaan barel minyak yang masih mengapung di kapal tanker dekat China, menunggu dibongkar. Tapi ketegangan ini membuat semua orang waspada.
Kapal Centuries yang dicegat AS tadi, berdasarkan dokumen internal PDVSA, membawa sekitar 1,8 juta barel minyak mentah jenis Merey yang ditujukan ke China. Kapal ini disebut-sebut menggunakan nama samaran "Crag" dan merupakan bagian dari jaringan armada gelap yang memang marak sejak sanksi AS diberlakukan pada 2019.
Menurut data dari TankerTrackers.com, dari puluhan kapal tanker 'bayangan' di perairan Venezuela, puluhan di antaranya telah dikenai sanksi AS. Setidaknya 15 kapal bermuatan penuh minyak mentah dan bahan bakar ada di sana.
Kampanye tekanan Trump terhadap Presiden Nicolas Maduro ini makin meluas. Sudah lebih dari dua lusin serangan militer terjadi di perairan dekat Venezuela, menewaskan sedikitnya 100 orang. Maduro sendiri menuding semua ini adalah upaya AS untuk menggulingkannya dan merebut cadangan minyak terbesar di dunia yang dimiliki Venezuela.
Jadi, pasar minyak sekarang seperti meniti tali. Di satu sisi, ada potensi gangguan pasokan yang nyata dari Venezuela. Di sisi lain, harapan perdamaian Rusia-Ukraina bisa meredam gejolak. Mana yang akan lebih berpengaruh? Waktu yang akan menjawab.
Artikel Terkait
Laba Bersih Chandra Asri Melonjak 2.662% Jadi Rp 23,8 Triliun pada 2025
IHSG Berbalik Anjlok 1,21% di Sesi I, Sektor Energi dan Industri Tertekan
Laba Bersih DGWG Tembus Rp218,85 Miliar di 2025, Didongkrak Pendapatan Rekor
ESDM Siap Naikkan Harga Patokan Nikel Usai Perintah Presiden Prabowo