Di sisi lain, ada kabar baik dari sisi harga pangan. Penurunan signifikan pada inflasi kelompok harga bergejolak menunjukkan bahwa upaya stabilisasi pasokan pangan cukup berhasil. Namun begitu, hal ini sedikit dikoreksi oleh kenaikan pada harga yang diatur pemerintah. Kombinasi inilah yang membuat sikap hati-hati menjadi pilihan paling masuk akal.
Riefky pun memberikan peringatan keras. Menurutnya, memotong suku bunga sekarang justru berbahaya. Langkah itu berisiko memicu tekanan inflasi yang lebih besar dan yang tak kalah mengkhawatirkan bisa mendorong pelemahan nilai tukar rupiah.
“Oleh karena itu, kami berpandangan bahwa Bank Indonesia perlu menahan suku bunga acuannya di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur terakhir di 2025,” tegasnya menutup analisis.
Intinya, saran untuk BI cukup jelas: bertahan dulu. Fokuskan energi pada pengawasan nilai tukar dan bersiaplah untuk turun tangan melakukan intervensi jika pasar bergejolak. Tahun ini akan berakhir, tapi tantangan menjaga stabilitas ekonomi tampaknya belum usai.
Artikel Terkait
Palantir Pacu Nasdaq, Emas Melonjak 6% di Tengah Gejolak Pasar
Mendag Tegaskan Tak Ada Moratorium, Ekspor Kelapa Tetap Jalan
Pemerintah Pacu Investasi Rp 2.175 Triliun untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6%
Wacana Gentengisasi Prabowo Hangatkan Harapan di Jatiwangi