Wacana Presiden Prabowo soal gerakan nasional ganti atap seng jadi genteng tanah liat disambut hangat di Jatiwangi, Majalengka. Bagi para pengrajin di sentra produksi ini, gagasan itu bukan cuma wacana. Mereka melihat peluang nyata untuk mendongkrak permintaan dan menghidupkan kembali denyut ekonomi lokal yang sempat redup.
Di Desa Burujul Wetan, suara mesin press dan tumpukan genteng yang dijemur menjadi pemandangan sehari-hari. Di tengah suasana itu, Syamsul (25), seorang pengrajin muda, mengaku siap jika program gentengisasi benar-benar jalan. "Sanggup, siap," katanya singkat saat ditemui di pabriknya, Selasa lalu.
Usaha yang diwariskan ayahnya sejak 2005 ini kini mempekerjakan 35 orang. Kapasitas produksinya sekitar 1.800 genteng per hari. Tapi Syamsul bilang, itu bisa ditingkatkan. Tenaga kerja dan produksi akan ditambah kalau permintaan melonjak.
"Alhamdulillah rutin kirim genteng empat mobil per minggu, jumlahnya sekitar 18 ribuan genteng," ujarnya. Pasarannya sudah merambah ke berbagai kota, mulai dari wilayah Ciayumajakuning, Bandung, Garut, hingga Semarang dan Tegal.
Dua jenis genteng ia produksi: morando yang bergelombang besar, dan plentong yang lebih rata. Masing-masing punya varian glazur (mengkilap) dan natural. Harganya bervariasi. Morando glazur paling mahal, sekitar Rp 3.800 sampai Rp 4.000 per buah. Sementara plentong natural bisa didapat Rp 1.800-an.
"Yang glazur lebih mahal karena ada tambahan zat pewarna dan dua kali pembakaran," jelas Syamsul.
Prosesnya masih tradisional, mengandalkan sinar matahari untuk pengeringan. Tanah liat dicetak, dipress, lalu dijemur lima hingga enam jam sebelum dibakar. Satu tungku miliknya bisa menampung 8.000 genteng besar. Pembakarannya lama, 8 sampai 12 jam, tergantung kayu yang dipakai.
Bagi para pekerja di sini, usaha ini adalah nafas kehidupan. Seperti Soleh (31), yang sudah 20 tahun jadi kuli panggul. "Sistem bayarannya mingguan, cukup untuk memenuhi kebutuhan anak sama istri," tuturnya.
Di sisi lain, wacana presiden juga mendapat sorotan politisi lokal. Anggota Komisi II DPRD Majalengka, Iip Rivandi, mengaku bangga. Menurutnya, ini bisa mendorong usaha kecil menengah.
“Ketika melihat pidato Presiden terkait genteng, saya sebagai warga Jatiwangi merasa tersentuh,” kata Iip.
Namun begitu, ia berharap wacana ini segera dikonkretkan. Perlu ada instruksi presiden atau produk hukum yang jelas agar daerah punya pijakan untuk melaksanakannya secara berkelanjutan.
Dukungan Pemkab dan Warisan yang Tergerus
Pemkab Majalengka sendiri sudah menyatakan komitmen. Bupati Eman Suherman menegaskan dukungannya usai menghadiri rapat di Sentul. Ia bilang, kebijakan genteng sejalan dengan program 'Majalengka Langkung SAE' yang menekankan pembangunan berkelanjutan dan berpihak pada ekonomi rakyat.
“Ini merupakan bentuk keberpihakan nyata kepada produk lokal," ujarnya. Rencananya, atap genting akan didorong penggunaannya di gedung pemerintahan, sekolah, puskesmas, dan fasilitas publik lain.
Dukungan ini penting. Sebab, sejarah panjang genteng Majalengka sedang diuji. Jatiwangi dulu adalah nama besar. Era 80-an hingga awal 2000-an adalah masa kejayaannya. Saat itu, lebih dari 600 pabrik genting beroperasi, bahkan produknya menembus pasar Asia dan Eropa.
Tapi zaman berubah. Pembangunan bandara Kertajati, tol Cisumdawu, dan kawasan industri besar lain perlahan menggeser industri rakyat ini. Kini, yang bertahan mungkin cuma sekitar 120 pabrik. Generasi muda lebih memilih kerja di pabrik besar yang terlihat lebih modern.
Genteng Jatiwangi bukan sekadar material bangunan. Ia adalah warisan budaya, ketrampilan turun-temurun, dan denyut ekonomi yang pernah berdetak kencang. Kini, dengan wacana dari pusat, ada secercah harapan untuk membangkitkannya kembali.
Artikel Terkait
Bitcoin Tembus Rp1,39 Miliar, Tertinggi dalam Tiga Bulan Didorong Arus Dana Institusional
BRI Gandeng Grab, Beri Diskon Belanja dan Transportasi bagi Pemegang Kartu Kredit
MNC Bank Medan Bagikan Hadiah Cashback Jutaan Rupiah Lewat Program Tabungan Dahsyat Arisan
IHSG Ditutup Menguat 1,22 Persen ke 7.057, Didorong Sektor Barang Baku dan Keuangan