“Ketika melihat pidato Presiden terkait genteng, saya sebagai warga Jatiwangi merasa tersentuh,” kata Iip.
Namun begitu, ia berharap wacana ini segera dikonkretkan. Perlu ada instruksi presiden atau produk hukum yang jelas agar daerah punya pijakan untuk melaksanakannya secara berkelanjutan.
Dukungan Pemkab dan Warisan yang Tergerus
Pemkab Majalengka sendiri sudah menyatakan komitmen. Bupati Eman Suherman menegaskan dukungannya usai menghadiri rapat di Sentul. Ia bilang, kebijakan genteng sejalan dengan program 'Majalengka Langkung SAE' yang menekankan pembangunan berkelanjutan dan berpihak pada ekonomi rakyat.
“Ini merupakan bentuk keberpihakan nyata kepada produk lokal," ujarnya. Rencananya, atap genting akan didorong penggunaannya di gedung pemerintahan, sekolah, puskesmas, dan fasilitas publik lain.
Dukungan ini penting. Sebab, sejarah panjang genteng Majalengka sedang diuji. Jatiwangi dulu adalah nama besar. Era 80-an hingga awal 2000-an adalah masa kejayaannya. Saat itu, lebih dari 600 pabrik genting beroperasi, bahkan produknya menembus pasar Asia dan Eropa.
Tapi zaman berubah. Pembangunan bandara Kertajati, tol Cisumdawu, dan kawasan industri besar lain perlahan menggeser industri rakyat ini. Kini, yang bertahan mungkin cuma sekitar 120 pabrik. Generasi muda lebih memilih kerja di pabrik besar yang terlihat lebih modern.
Genteng Jatiwangi bukan sekadar material bangunan. Ia adalah warisan budaya, ketrampilan turun-temurun, dan denyut ekonomi yang pernah berdetak kencang. Kini, dengan wacana dari pusat, ada secercah harapan untuk membangkitkannya kembali.
Artikel Terkait
Palantir Pacu Nasdaq, Emas Melonjak 6% di Tengah Gejolak Pasar
Mendag Tegaskan Tak Ada Moratorium, Ekspor Kelapa Tetap Jalan
Pemerintah Pacu Investasi Rp 2.175 Triliun untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6%
Hexindo Raup Rp 6,71 Triliun, Tapi Laba Justru Tergerus