“Orang-orang yang tadinya lancar ini (membayar pinjaman) jadi mulai macet jadinya,” jelas Ferdinan.
Dampaknya, menurut dia, akan paling terasa di level bank per bank, khususnya bank daerah dengan skala usaha kecil. Tapi secara nasional, risiko sistemik dinilai masih rendah. Bencana kali ini dianggap tidak seberat tsunami Aceh 2004, misalnya.
“Individual-individual bank pasti akan berdampak besar, tapi secara industri, secara nasional kelihatannya itu tidak akan (berdampak besar),” ungkapnya.
Ferdinan lalu mengingatkan sejarah. Kasus terparah dalam catatan LPS, di mana bencana berujung pada likuidasi bank, terjadi dulu di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Satu bank daerah waktu itu harus ditutup.
Meski demikian, dia menekankan perlunya langkah cepat. Koordinasi dengan OJK menjadi kunci agar dampak krisis tidak meluas, terutama untuk bank-bank daerah yang lebih rentan.
“Kita akan sangat-sangat tergantung bagaimana kita bekerja sama dengan OJK. Kalau memang itu bisa kita lebih awal terlibat di sana mungkin akan lebih bagus dan ada peluang kita untuk menghindarkan bank tersebut dari kegagalan,” tutur Ferdinan.
LPS sendiri memastikan akan terus memantau perkembangan. Mereka juga bersiap menghadapi kemungkinan lonjakan kredit bermasalah pascabencana. Intinya, operasional mereka akan menyesuaikan kondisi di lapangan. Tujuannya satu: menjaga agar stabilitas perbankan tetap bisa bertahan di tengah musibah.
Artikel Terkait
Emas: Pelindung Nilai yang Tak Lekang oleh Gejolak Ekonomi
PPGL Lepas Kepemilikan di JAYA Senilai Rp44,6 Miliar ke Tangan Pengendali
Kenaikan Tarif Commuter Line Masih Digodok, KCI Tunggu Keputusan Pemerintah
JAST dan MPIX Melonjak 34%, Saham Tekstil ESTI Tersungkur Meski Sempat Diangkat Sentimen BUMN