“Air itu investasinya luar biasa mahal, sehingga kami membutuhkan dana yang tidak sedikit,” katanya.
“Kami diminta oleh Pak Gubernur untuk mencari bisnis model dan kreatif financing, dan salah satunya mungkin untuk membuat semakin terbuka ide (IPO) itu muncul dari sana.”
Di sisi lain, Arief menegaskan bahwa rencana ini murni didorong oleh kebutuhan investasi jangka panjang. Bukan karena ada faktor atau tekanan tertentu. Intinya, perusahaan sedang memikirkan segala cara agar bisa memberikan layanan yang lebih baik bagi warga Jakarta.
“Jadi bukan karena ada hal-hal tertentu yang mendasari supaya ini jadi IPO, enggak,” tegasnya.
“Jadi investasi itulah yang membuat kami harus berpikir mencari berbagai cara untuk membuat perusahaan ini lebih baik lagi dan bisa melayani masyarakat lebih baik lagi. Begitu.”
Jadi, meski target 2027 sudah terpampang, perjalanan PAM Jaya menuju bursa masih panjang. Proses perubahan badan hukum dari Perumda ke Perseroda memang sudah berjalan, tapi itu baru langkah pertama dari serangkaian tahapan rumit yang harus dilalui.
Artikel Terkait
Bursa Dubai dan Abu Dhabi Anjlok Tajam Pascaserangan Iran
Ahli: Fundamental Perbankan Kuat Jadi Prasyarat Sukses Program Strategis Pemerintah
MNC Asset Management Raih Lima Penghargaan Reksa Dana dalam Satu Ajang
Surge Gandeng FiberHome dan Baicells untuk Percepat Jaringan 5G FWA 1,4 GHz di Indonesia