Jakarta Serangan balasan Iran ke negara-negara Teluk ternodai citra mereka sebagai kawasan aman dan makmur. Lantas, apakah mereka akan membalas? Atau justru terseret dalam perang yang tak diinginkan?
Marah. Itulah yang dirasakan negara-negara Teluk yang kini berada di garis depan konflik Timur Tengah terbaru. Iran baru saja melancarkan serangan besar-besaran, menembakkan ratusan rudal dan drone ke tetangga Arabnya. Targetnya bukan cuma pangkalan militer AS di wilayah itu, tapi juga infrastruktur sipil dan energi.
Dengan aksi itu, Iran seolah mencoreng citra Teluk sebagai pusat pariwisata, perjalanan, dan keuangan yang selama ini dikenal aman. Industri minyak dan gas jantung perekonomian kawasan pun ikut terganggu. Padahal, perang ini sama sekali bukan keinginan mereka. Negara-negara Arab sudah berupaya keras mencegahnya.
Nah, pertanyaan besarnya sekarang: akankah mereka terpancing masuk ke dalam apa yang disebut sebagai serangan "berbahaya" dari Iran?
“Semua garis merah sudah dilanggar,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al Ansari, dalam konferensi pers Selasa lalu.
“Serangan terhadap kedaulatan kami terjadi terus-menerus,” tambahnya di hadapan wartawan.
“Infrastruktur diserang. Kawasan pemukiman warga juga. Dampaknya jelas sekali. Soal kemungkinan pembalasan, semua opsi ada di tangan pimpinan kami. Tapi harus kami tegaskan, serangan seperti ini tidak akan dan tidak boleh dibiarkan.”
Memang, sebagian besar rudal Iran berhasil ditangkis. Tapi puing-puing yang berhamburan memicu kebakaran dan menewaskan warga sipil. Sementara drone, yang lebih sulit dideteksi pertahanan udara, meski seringnya hanya bikin kerusakan kecil, tetap saja menciptakan kekacauan. Perdagangan dan lalu lintas penerbangan jadi kacau balau.
Sepertinya itulah strategi Iran: menaikkan taruhan bagi negara tetangganya. Harapannya, tekanan kepada AS untuk menghentikan perang akan semakin besar.
Menurut laporan Financial Times, Iran diduga menembakkan drone dan rudal dalam jumlah signifikan ke Uni Emirat Arab pusat perdagangan dan pariwisata utama Teluk sama banyaknya seperti yang diluncurkan ke Israel.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Putuskan Nuzulul Quran Digelar di Istana Negara
Dubes Iran Tolak Mediasi Indonesia, Sebut Tak Ada Ruang Negosiasi dengan AS
Pemerintah Rencanakan Batas Usia 16 Tahun untuk Akses Media Sosial Mulai 2026
BTS Telkomsel Resmi Beroperasi, Akhiri Isolasi Sinyal di Kamang Hilia