Harga minyak dunia diprediksi bakal mengalami penurunan yang cukup tajam dalam beberapa tahun ke depan. Bahkan, menurut analis dari JPMorgan, penurunan ini bisa mencapai angka 50 persen pada akhir 2027. Bayangkan, dari posisi sekarang yang berkisar di USD63,50 per barel, harga minyak mentah Brent berpotensi merosot hingga ke level USD30-an.
Fakta ini cukup mengejutkan, apalagi jika melihat performa minyak sepanjang tahun ini yang sudah turun sekitar 15 persen. Ternyata, masalahnya klasik banget: hukum penawaran dan permintaan. Pasokan yang berlimpah nggak diimbangi dengan permintaan yang sama kuatnya.
Menurut Natasha Kaneva, seorang analis di JPMorgan, permintaan minyak sebenarnya tumbuh dengan cukup solid belakangan ini. Tapi, di sisi lain, pertumbuhan pasokan jauh lebih gila.
Jadi, siapa dalang di balik melimpahnya pasokan ini? Kaneva menyoroti peran produsen di luar kelompok OPEC . Amerika Serikat disebut-sebut sebagai kontributor utama yang mendorong gelombang pasokan ini.
Artikel Terkait
Saham Jantra Grupo (KAQI) Melonjak 21,9%, Jadi Top Gainer Bursa
Dirut BRI Sinyalkan Dividen 2025 Lebih Besar Didukung CAR yang Kuat
Astrindo dan Indogas Jalin Kerja Sama Penyaluran Gas untuk Proyek Mini LNG
Pengamat Pasar Modal: Notasi Khusus Free Float Tepat, Delisting Perlu Hati-hati