Kenaikan kredit dan DPK ini secara otomatis mendongkrak total aset bank. Kini aset BTN mencapai Rp 503,48 triliun, atau naik 10,79% yoy dibandingkan Oktober 2024 yang sebesar Rp 454,44 triliun.
Menurut Nixon, peningkatan DPK tidak hanya bersumber dari segmen ritel melalui superapp Bale by BTN. Tapi juga ditopang oleh segmen institusi berskala menengah dari sektor perumahan dan sektor-sektor terkait lainnya.
Dengan kinerja yang sudah terlihat hingga Oktober ini, BTN cukup optimistis bisa mencapai target pertumbuhan kredit dan pembiayaan sekitar 8–10% di akhir 2025. Fokus utama mereka tetap pada penyaluran sektor perumahan, termasuk KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) Sejahtera dan Kredit Program Perumahan (KPP).
"Sedangkan untuk kredit non-perumahan, kami dorong melalui penyaluran ke korporasi yang didominasi sektor real estate, listrik, gas, air, dan perdagangan besar," papar Nixon lebih lanjut.
Di perkembangan lain, BTN telah mendapatkan lampu hijau dari pemegang saham untuk memisahkan unit usaha syariahnya ke entitas baru, yaitu PT Bank Syariah Nasional (BSN).
Nixon berharap unit syariah tersebut bisa segera beroperasi pada Desember 2025 mendatang. Kehadirannya diharapkan dapat memperkuat industri perbankan syariah nasional yang semakin berkembang.
Artikel Terkait
Analis Soroti Anomali: Kinerja BCA Gemilang, Harga Saham Justru Anjlok
ARNA Bagikan Dividen Rp330 Miliar, Setara Rp45 per Saham untuk Tahun Buku 2025
BEI Resmi Delisting Saham Sritex Mulai 2026, Lo Kheng Hong Tercatat Sebagai Pemegang Saham
Analis Proyeksikan Guncangan Pasar Global, Rupiah Tertekan hingga Level 17.000