Belakangan ini, obrolan soal investasi saham makin ramai aja. Dari anak muda yang baru kerja sampai yang udah punya cucu, banyak yang mulai melirik pasar modal. Tapi jujur, kalau denger istilah kayak IPO atau capital gain langsung pusing, itu wajar banget. Tenang, kita semua pernah di posisi itu.
Bahkan para investor yang jago pun awalnya juga pemula. Bedanya, mereka nggak loncat langsung ke kolam yang dalam. Mereka belajar dasarnya dulu, pelan-pelan. Nah, artikel ini coba ngebantu kamu buat ngerti fondasi penting itu sebelum benar-benar terjun. Yuk, kita mulai dari hal yang paling mendasar.
Sebenarnya, Saham Itu Apa Sih?
Gampangnya, saham itu kayak tanda bukti kamu punya sebagian dari sebuah perusahaan. Coba bayangin kamu dan kawan-kawan patungan buka warung kopi. Total modal butuh Rp10 juta, dan kamu nyumbang Rp2 juta. Berarti, kamu punya 20% hak atas warung itu. Nah, "bukti" kepemilikan 20% itulah yang namanya saham.
Di dunia nyata, saat kamu beli saham perusahaan publik sebut aja Telkom atau Unilever artinya kamu resmi jadi pemilik kecil dari perusahaan besar tersebut. Kamu berhak dapat bagian keuntungan mereka dan bahkan punya suara dalam rapat pemegang saham, meskipun pengaruhnya ya sebanding dengan jumlah lembar saham yang kamu pegang.
Gimana Cara Kerjanya?
Saham diperdagangkan di bursa efek, di Indonesia namanya Bursa Efek Indonesia (BEI). Di situlah tempatnya jual-beli. Harganya naik turun berdasarkan hukum sederhana: permintaan dan penawaran. Kalau yang mau beli membludak, harga meroket. Sebaliknya, kalau pada buru-buru jual, harganya bisa anjlok.
Contohnya, sebuah perusahaan baru saja merilis laporan laba yang luar biasa bagus. Kabar baik ini bikin para investor tertarik. Karena yang mau beli banyak, sementara jumlah sahamnya terbatas, ya harganya melambung. Di sisi lain, kalau ada berita buruk seperti skandal atau kinerja jelek, bisa-bisa harga sahamnya terjun bebas karena pada panik jual.
Yang perlu dicatat, nilai saham itu bisa berubah setiap detik saat pasar buka. Fluktuasi inilah yang bikin dunia saham seru sekaligus bikin deg-degan.
Memangnya, Untungnya Apa?
Lalu kenapa orang rela naruh uang di saham? Pada dasarnya, ada dua jalur untuk dapat untung.
Capital gain. Ini keuntungan dari selisih harga. Misal kamu beli saham XYZ di harga Rp1.000 per lembar. Beberapa bulan kemudian, harganya naik jadi Rp1.500. Kalau kamu jual di titik itu, selisih Rp500 itulah capital gain-mu. Tapi ingat, keuntungan ini baru nyata setelah kamu benar-benar menjual sahamnya.
Dividen. Ini adalah bagi hasil. Kalau perusahaan lagi cuan besar di akhir tahun, seringkali sebagian keuntungan itu dibagikan ke para pemegang saham. Besarannya tergantung berapa banyak saham yang kamu punya. Beberapa perusahaan rutin bagi dividen, ada juga yang memilih untuk reinvestasi labanya buat berkembang.
Tapi, Risikonya Juga Nggak Main-Main
Nggak ada investasi yang bebas risiko. Saham termasuk yang risikonya tinggi, jadi kamu harus siap mental sama beberapa kemungkinan ini.
Artikel Terkait
Pasar Saham Asia Menguat Didorong Laporan Nvidia, Yen Masih Tertekan
PT Puradelta Lestari (DMAS) Pacu Target Prapenjualan 30% Didorong Permintaan Data Center
IHSG Melemah Usai Dibuka Menguat, Pergerakan Sektor Beragam
Petrosea Akuisisi Mayoritas Saham PT Nusantara Arung Samudera