Pasar saham Asia bergerak hijau di awal sesi Kamis pagi. Sentimen positif ini datang dari raksasa teknologi Nvidia, yang berhasil meredam sedikit kekhawatiran investor soal gelembung belanja di sektor kecerdasan buatan. Di sisi lain, mata uang yen Jepang masih terlihat limbung, terperangkap dalam spekulasi tentang arah kebijakan bank sentralnya.
Laporan pendapatan Nvidia untuk kuartal pertama 2026 ternyata melampaui proyeksi pasar. Kunci utamanya? Belanja besar-besaran perusahaan teknologi global untuk prosesor AI mereka. Kabar ini langsung disambut pasar sebagai angin segar, setelah beberapa pekan diwarnai keraguan.
“Reaksi pasar terasa seperti kelegaan,” kata Charu Chanana, Chief Investment Strategist di Saxo.
“Sentimen risk-on yang moderat akhirnya muncul, mengusir sebagian volatilitas yang diakibatkan isu AI belakangan ini.”
Menurutnya, kinerja Nvidia yang solid itu cukup untuk menjaga siklus belanja modal di sektor AI tetap berdenyut. Optimisme ini langsung memacu penguatan. Indeks Nikkei 225 di Tokyo bahkan berhasil mencetak rekor tertinggi baru. Sementara itu, indeks KOSPI Korea melonjak 2 persen, dan indeks acuan MSCI untuk kawasan Asia Pasifik (di luar Jepang) menguat 0,7 persen.
Tapi tentu saja, tidak semua pertanyaan terjawab. Richard Clode, seorang Portofolio Manajer di Janus Henderson Investors, melihat pergeseran fokus. Jika dulu pasar skeptis melihat dampak disruptif AI dan imbal hasil investasinya, kini perdebatan bergeser ke soal ketahanan.
Artikel Terkait
Panduan Dasar Investasi Saham untuk Pemula: Mulai dari Pengertian hingga Langkah Awal
PT Puradelta Lestari (DMAS) Pacu Target Prapenjualan 30% Didorong Permintaan Data Center
IHSG Melemah Usai Dibuka Menguat, Pergerakan Sektor Beragam
Petrosea Akuisisi Mayoritas Saham PT Nusantara Arung Samudera