Senin pagi itu, Herawati sudah punya firasat bakal berat. Warga Cibinong ini harus ke kantornya di Kuningan, Jakarta Selatan, seperti biasa. Tapi perjalanan yang biasanya cuma dua-tiga jam, hari itu berubah jadi marathon nyaris enam jam. Benar-benar ujian kesabaran.
Semuanya berawal dari rutinitas mengantar anak. Tinggal di Puspa Raya, Bojong Gede, ia meluncur ke sekolah anaknya di Jalan Mayor Oking, Cibinong. Biasanya, 20 menit paling lama. "Itu makan waktu satu setengah jam," ujarnya, masih terdengar kesal.
Rupanya, itu baru babak pertama. Begitu anaknya diturunkan, malah terjebak lagi di dalam kompleks sekolah sendiri. Antrean mobil untuk keluar mengular panjang. Butuh waktu sejam penuh cuma buat mencapai jalan utama. Padatnya arus di Jalan Mayor Oking bikin semua serba lambat.
Padahal, dari situ ke pintu Tol Citeureup biasanya cuma 15 menit. Tapi Senin kemarin, satu jam lagi terbuang di sana. Macetnya nggak ketulungan.
Karena situasi kayak gitu, Herawati sempat kepikiran ganti moda transportasi. Rencananya, dia mau naik LRT dari kawasan Cibubur. Biasanya sih, perjalanan ke stasiun cuma 30 menit. Tapi realitanya?
"Tadi sampai satu setengah jam. Itu belum sampai Stasiun Harjamukti. Masih antre mau keluar," lanjutnya.
Waktu sudah nyaris pukul 10 pagi. Lihat situasi yang nggak memungkinkan, dia akhirnya urung naik LRT. Putuskan saja untuk terus pakai mobil pribadi menuju Jakarta. "Biasanya naik kereta, tapi hari ini bawa mobil karena hujan deras. Di sepanjang jalan juga pelan-pelan karena genangan. Cibinong banyak genangan tinggi," jelasnya.
Sayangnya, keputusan itu nggak serta-merta memperbaiki keadaan. Perjalanan dari Cibubur ke Kuningan lewat Cawang ternyata juga jadi perjuangan sendiri. Butuh waktu sekitar 2,5 jam. "Sampai dua setengah jam. Macet keluar Cawang," katanya.
Kawasan Cawang memang jadi titik rawan lain. Kemacetan parah terjadi di sejumlah ruas flyover yang mengarah ke Kuningan dan Casablanca. "3 kali flyover, keluar Cawang Kuningan dua setengah jam," sambung Herawati menggambarkan betapa statisnya lalu lintas.
Memang, Senin pagi itu lalu lintas Jakarta benar-benar kolaps. Titik-titik seperti Jalan MT Haryono Cawang menuju Kuningan, sampai Jalan Gatot Soebroto ke arah Senayan, semuanya berwarna merah padam.
Hujan yang mengguyur ibukota dituding sebagai biang keladinya. Jalan jadi licin, banyak genangan, dan pengendara pun memelankan kendaraan. Kombinasi itu bikin arus macet total.
Herawati akhirnya tiba di kantor hampir jam 12 siang. Lelah dan kesal bercampur jadi satu. "Biasanya enggak telat-telat amat. Ini hampir jam 12 baru sampai kantor. Rugi di jalan. Sudah sampai Semarang harusnya," pungkasnya dengan nada getir. Sebuah pagi yang benar-benar terbuang percuma di tengah kemacetan.
Artikel Terkait
James Milner Pensiun di Usia 40 Tahun, Tutup Karier 24 Musim dengan Rekor 658 Laga di Premier League
Kemenag Sembelih 12 Sapi dan 6 Kambing, Salurkan 1.200 Paket Daging Kurban serta Santunan Anak Yatim
Pelaku Curanmor Bersenpi Tewas Ditembak, Polisi Ringkus Satu Komplotan di Tulang Bawang
Kelebihan Biaya Perjalanan Luar Negeri Presiden Prabowo Ditanggung Pribadi, Klaim Sekretaris Kabinet