Tegang di Selat Taiwan, PM Jepang Ingatkan Aliansi dengan AS Bisa Runtuh

- Selasa, 27 Januari 2026 | 16:06 WIB
Tegang di Selat Taiwan, PM Jepang Ingatkan Aliansi dengan AS Bisa Runtuh
Artikel Diplomasi

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, punya peringatan keras. Ia bilang, hubungan aliansi dengan Amerika Serikat bisa saja ambruk. Kok bisa? Semuanya tergantung pada sikap Jepang menghadapi isu Taiwan.

Taiwan sendiri punya posisi yang rumit. Beijing mengklaimnya sebagai wilayah tak terpisahkan. Tapi di Taipei, klaim itu ditampik mentah-mentah. Mereka bersikukuh sebagai negara yang berdaulat penuh.

Belakangan ini, hubungan Tokyo dan Beijing memang sedang tidak baik-baik saja. Komentar-komentar Takaichi tentang Taiwan kerap memicu kemarahan China. Bahkan, pada November 2025 lalu, ia pernah menyebut bahwa serangan China ke Taiwan akan dijawab dengan respons militer Jepang.

China jelas naik pitam. Reaksinya cepat: pembatasan ekspor, pembatalan penerbangan, dan ancaman sanksi yang lebih keras lagi. Suasana pun makin tegang.

Namun begitu, Takaichi tampaknya tak gentar. Senin (26/1) lalu, ia kembali angkat bicara. Padahal, partai oposisi di Jepang sudah menudingnya sebagai biang eskalasi dengan China.

Dalam siaran televisi langsung, Takaichi berusaha meluruskan maksudnya.

“Saya ingin memperjelas bahwa ini bukan tentang Jepang yang akan melakukan tindakan militer jika China dan Amerika Serikat berkonflik (atas Taiwan),”

Ucapnya, merujuk pada pernyataan kontroversialnya di parlemen beberapa bulan sebelumnya.

Ia lalu menjelaskan skenario yang mungkin terjadi.

“Kalau sesuatu yang serius terjadi di sana, kita harus pergi menyelamatkan warga Jepang dan Amerika di Taiwan. Dalam situasi seperti itu, sangat mungkin kita akan bertindak bersama.”
“Nah, bayangkan jika pasukan AS yang bertindak bersama kita diserang, sementara Jepang cuma diam dan kabur. Aliansi kita dengan AS pasti akan runtuh. Karena itu, kita akan merespons secara ketat, tentu dalam batas hukum yang ada, sambil menilai situasi di lapangan secara menyeluruh,”

Jelas sekali, Takaichi sedang berjalan di atas tali yang amat tipis. Di satu sisi, ia harus menjaga aliansi vital dengan Washington. Di sisi lain, ia tak bisa mengabaikan raksasa di seberang laut yang terus mengawasi setiap gerak-geriknya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar