Waktu sudah nyaris pukul 10 pagi. Lihat situasi yang nggak memungkinkan, dia akhirnya urung naik LRT. Putuskan saja untuk terus pakai mobil pribadi menuju Jakarta. "Biasanya naik kereta, tapi hari ini bawa mobil karena hujan deras. Di sepanjang jalan juga pelan-pelan karena genangan. Cibinong banyak genangan tinggi," jelasnya.
Sayangnya, keputusan itu nggak serta-merta memperbaiki keadaan. Perjalanan dari Cibubur ke Kuningan lewat Cawang ternyata juga jadi perjuangan sendiri. Butuh waktu sekitar 2,5 jam. "Sampai dua setengah jam. Macet keluar Cawang," katanya.
Kawasan Cawang memang jadi titik rawan lain. Kemacetan parah terjadi di sejumlah ruas flyover yang mengarah ke Kuningan dan Casablanca. "3 kali flyover, keluar Cawang Kuningan dua setengah jam," sambung Herawati menggambarkan betapa statisnya lalu lintas.
Memang, Senin pagi itu lalu lintas Jakarta benar-benar kolaps. Titik-titik seperti Jalan MT Haryono Cawang menuju Kuningan, sampai Jalan Gatot Soebroto ke arah Senayan, semuanya berwarna merah padam.
Hujan yang mengguyur ibukota dituding sebagai biang keladinya. Jalan jadi licin, banyak genangan, dan pengendara pun memelankan kendaraan. Kombinasi itu bikin arus macet total.
Herawati akhirnya tiba di kantor hampir jam 12 siang. Lelah dan kesal bercampur jadi satu. "Biasanya enggak telat-telat amat. Ini hampir jam 12 baru sampai kantor. Rugi di jalan. Sudah sampai Semarang harusnya," pungkasnya dengan nada getir. Sebuah pagi yang benar-benar terbuang percuma di tengah kemacetan.
Artikel Terkait
BMKG Ungkap Penyebab Hujan Masih Guyur Ibu Kota hingga Aceh
Banjir Surut di Jalan NIS, Tapi Kubangan Masuk ke Pemukiman
Viral di Medsos: 335 Triliun untuk Makan Siang atau 3,3 Juta Sarjana Gratis?
BNPB Targetkan Huntara Sumut Rampung Sebelum Ramadan 2026