Balasan Listrik Ukraina Hantam Kilang Minyak Rusia di Tengah Krisis Energi

- Minggu, 23 November 2025 | 11:00 WIB
Balasan Listrik Ukraina Hantam Kilang Minyak Rusia di Tengah Krisis Energi
Perang Energi Rusia-Ukraina Memanas

Konflik antara Rusia dan Ukraina kian memanas, terutama di sektor energi. Meski ada celah untuk perundingan damai, situasi di lapangan justru semakin runyam. Rusia baru saja melancarkan serangan besar-besaran yang menghantam infrastruktur energi Ukraina.

Akibatnya, warga dan pelaku usaha di Ukraina terpaksa menghadapi pemadaman listrik yang berlarut-larut. Tapi Ukraina tak tinggal diam. Mereka membalas dengan menargetkan kilang minyak dan fasilitas lepas pantai Rusia sebuah langkah untuk menggerus pendapatan minyak negara tersebut.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy bersikap tegas.

“Rusia akan melakukan apa pun untuk memastikan kita mengalami pemadaman listrik terus-menerus. Tapi mereka harus tahu bahwa kami akan membalas. Menurut saya itu adil,” ujarnya.

Menurut Maxim Timchenko dari DEO DTEK, perusahaan energi swasta terbesar di Ukraina, musim dingin kali ini bisa jadi yang paling berat sejak invasi Rusia dimulai pada 2022. Pasalnya, sejak September, serangan terhadap aset energi kian masif.

“Sejak September, Rusia menyerang semua jenis aset energi seperti tambang, pembangkit listrik, gardu, jalur transmisi, produksi gas, hingga penyimpanan gas,” jelasnya.

Serangan terbaru Rusia pada Rabu (19/11) melibatkan lebih dari 500 drone dan rudal. Sedikitnya 25 orang tewas, dan pemadaman listrik baru pun muncul. Zelenskiy bahkan menyebut, hanya dalam seminggu, Rusia meluncurkan lebih dari 2.000 drone kamikaze, bom luncur, dan rudal ke wilayahnya.

Meski Ukraina enggan merinci tingkat kerusakan yang terjadi, durasi pemadaman listrik bicara banyak. Di Kyiv, misalnya, listrik bisa padam rata-rata delapan jam. Bahkan dalam beberapa kasus, warga harus bertahan tanpa listrik hingga 16 jam.

Operator jaringan listrik Ukraina, Ukrenergo, mengonfirmasi bahwa pemadaman darurat terpaksa diberlakukan di sebagian besar wilayah pada Kamis (20/11). Alasannya, perbaikan fasilitas energi yang rusak akibat serangan masih berlangsung.

Di sisi lain, Ukraina mengklaim telah menyerang sekitar 45 fasilitas produksi bahan bakar Rusia sejak awal Agustus. Totalnya, tahun ini sudah ada sekitar 65 serangan naik signifikan dari 35 serangan di tahun sebelumnya.

Serangan-serangan ini berhasil menekan volume pemrosesan minyak Rusia di bawah rata-rata musiman. Bahkan pada 14 November, Ukraina menyerang infrastruktur minyak Rusia di Laut Hitam, memicu keadaan darurat dan sempat mengganggu ekspor minyak mentah. Serangan Ukraina makin intens seiring dengan sanksi Barat yang juga kian ketat.

“Kita harus berbuat lebih banyak agar perang ini berhenti, dan perang akan berhenti ketika Rusia kehabisan uang dan menyadari mereka tak bisa bertahan lebih lama dari kita,” tegas Kaja Kallas, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mendorong penyelesaian konflik dengan mempresentasikan rencana perdamaian 28 poin yang disusun bersama Rusia. Zelenskiy disebut bersedia membahas rencana itu.

Namun begitu, isinya cukup berat bagi Ukraina: menyerahkan sebagian wilayah yang direbut Rusia, membatasi ukuran militer, dan mencabut sanksi terhadap Rusia secara bertahap.

Skandal Korupsi Energi Jadi Tantangan Tambahan

Selain serangan Rusia, Ukraina juga dihantam skandal korupsi di sektor energi. Penyelidik antikorupsi menuding Timur Mindich, mantan rekan bisnis Zelenskiy, sebagai otak skema penggelapan dana hingga USD 100 juta.

Penyelidikan mengungkap dugaan suap dari kontraktor pembangunan pertahanan yang bertugas melindungi fasilitas nuklir dari serangan udara. Skandal ini muncul di saat Zelenskiy sedang berupaya mendapatkan dukungan finansial lebih besar dari Eropa untuk sistem pertahanan udaranya.

Merespons hal itu, Zelenskiy melakukan perombakan besar manajemen dan memerintahkan audit penuh terhadap badan energi milik negara. Tujuannya, meredam kemarahan publik.

Meski 60% listrik Ukraina bersumber dari nuklir dan 20% dari energi terbarukan, pasokan gas alam tetap krusial untuk pembangkit listrik di musim dingin.

Ukraina berencana menyimpan sekitar 13,2 miliar meter kubik gas untuk musim pemanas yang dimulai pertengahan Oktober. Sayangnya, serangan Rusia bulan lalu menghancurkan sekitar 60% produksi gas domestik. Akibatnya, impor tambahan jadi sangat vital.

Di awal November, Ukraina masih kekurangan dana sekitar 750 juta Euro dari total 2 miliar Euro yang dibutuhkan untuk pembelian bahan bakar.

Tapi ada secercah harapan. Pada Minggu (23/11), Zelenskiy dan Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis dijadwalkan bertemu di Athena. Mereka akan mengumumkan kesepakatan pasokan gas alam dari Depa Commercial SA untuk Naftogaz Ukraina, yang akan berlangsung dari Desember hingga Maret.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar