Ambisi Trump di Greenland: Ancaman Baru bagi Masa Depan Iklim Dunia

- Senin, 26 Januari 2026 | 08:30 WIB
Ambisi Trump di Greenland: Ancaman Baru bagi Masa Depan Iklim Dunia

Memang ada cadangan batu bara, tapi biaya eksploitasinya mahal banget. Ladang minyak besar juga belum ditemukan. Fokus komersial justru pada ‘critical minerals’, mineral bernilai tinggi yang dibutuhkan untuk teknologi hijau, dari turbin angin sampai baterai mobil listrik. Intinya, Greenland punya dua hal penting: pengetahuan ilmiah dan material strategis untuk memerangi krisis iklim.

Masalahnya, Trump dikenal tidak punya komitmen serius terhadap aksi iklim. Setelah menarik AS dari Perjanjian Paris, ia juga mengumumkan keluarnya AS dari IPCC. Retorikanya soal Greenland selalu berkutat pada keamanan dan akses mineral, hampir tak pernah menyentuh pentingnya riset iklim.

Padahal, lewat perjanjian pertahanan 1951 dengan Denmark, AS sudah punya pangkalan militer di Pituffik, Greenland utara. Selama masih satu pakta di NATO, AS sebenarnya bisa memperluas kehadiran militernya jika perlu.

Mengejar Greenland di luar kerangka NATO justru berisiko merusak perjanjian yang sudah ada. Dan yang paling berbahaya, pengambilalihan sepihak bisa membuat ilmuwan dunia kehilangan akses ke salah satu laboratorium iklim terpenting di planet ini.

Belajar dari Tempat Lain

Status Greenland ini unik, berbeda dengan wilayah kutub lainnya. Ambil contoh Antartika. Selama lebih dari 60 tahun, benua itu dilindungi perjanjian internasional yang menjadikannya zona damai untuk ilmu pengetahuan, dan melarang segala bentuk pertambangan.

Lalu ada Svalbard. Wilayah ini di bawah kedaulatan Norwegia berdasarkan traktat 1920, tapi punya sistem bebas visa yang memungkinkan warga puluhan negara tinggal dan bekerja di sana. Rusia bahkan punya kota kecil dan stasiun permanen di Barentsburg, lengkap dengan tambang batu baranya.

Nah, Greenland tidak punya perjanjian internasional semacam itu yang menjamin akses ilmuwan global. Keterbukaannya selama ini sangat bergantung pada stabilitas politik dan kebijakan pemerintah setempat yang bisa berubah drastis jika berada di bawah kendali AS.

Secara teori, Greenland bisa mengembangkan pendekatan sendiri. Misalnya, lewat perjanjian dengan negara mitra di dalam kerangka NATO, yang menggabungkan kerja sama keamanan, eksplorasi mineral, dan riset ilmiah, tapi tetap di bawah regulasi mereka sendiri.

“Pada akhirnya, masa depan Greenland harus ditentukan oleh orang Greenland sendiri, bersama Denmark,” pungkas Martin. Masa depan ilmu iklim dunia, dan transisi menuju peradaban yang lebih aman, sangat bergantung pada akses berkelanjutan ke pulau ini. Itu pun harus dengan syarat yang ditetapkan oleh masyarakat yang tinggal di sana.

Kisah meteorit Cape York yang diambil hanya sekitar 100 kilometer dari pangkalan luar angkasa AS di Pituffik itu adalah pengingat yang kuat. Kendali atas sumber daya dan pengetahuan bisa hilang dalam sekejap. Kalau sejarah itu terulang lagi, taruhannya kali ini bukan cuma sebuah artefak besi. Taruhannya adalah masa depan iklim kita semua.


Halaman:

Komentar