Lalu, bagaimana cara kerjanya?
Dilansir TechCrunch, algoritma AI akan menganalisis berbagai sinyal dari akun dan perilaku pengguna. Mulai dari usia yang mereka deklarasikan, kapan akun dibuat, sampai pola waktu kapan mereka biasa aktif.
Nah, jika sistem mendeteksi sebuah akun kemungkinan besar dipegang oleh anak di bawah 18 tahun, filter konten akan langsung bekerja. Filter ini dirancang untuk menyaring obrolan seputar topik sensitif seks, kekerasan, dan hal-hal lain yang dianggap tak pantas untuk konsumsi remaja.
Namun begitu, sistem buatan manusia pasti ada celahnya. OpenAI punya antisipasi kalau-kalau terjadi salah deteksi. Misalnya, seorang pengguna dewasa malah dikira remaja.
Untuk itu, mereka menyediakan mekanisme koreksi. Pengguna yang merasa dikategorikan salah bisa memulihkan status akun dewasanya dengan verifikasi identitas. Caranya? Dengan mengirimkan swafoto melalui mitra verifikasi OpenAI, Persona.
Artikel Terkait
Telkomsel Gelar Festival AI untuk Ribuan Pelajar, Cimahi Jadi Pembuka
Xiaomi Luncurkan Kacamata Pintar dan TWS Terjangkau di Pasar Indonesia
Di Balik Suara Misterius Gunung Jawa Barat: Kisah Burung Kedasih yang Tak Pernah Terlihat
Redmi Note 15 Resmi Meluncur, Bawa Baterai 6.500 mAh dan Ketahanan Ekstrem