"Dengan Senyar yang sudah punah dan Koto yang terus menjauh, tidak ada potensi interaksi antara kedua sistem tersebut," ungkapnya.
Meski ancaman langsung sudah sirna, kewaspadaan tidak boleh turun. BMKG mengingatkan, fase kritis belum benar-benar berakhir. Wilayah Indonesia bagian selatan, khususnya, masih berada dalam zona rawan pembentukan badai tropis hingga beberapa bulan ke depan.
Andri merinci titik-titik rawan itu. Dari akhir 2025 hingga sekitar April 2026, sejumlah perairan luas perlu diawasi ketat. Garis imajiner itu membentang panjang, mulai dari barat Sumatera, menyusur selatan Jawa dan Nusa Tenggara, hingga ke selatan Papua.
"Pada periode ini, pembentukan bibit siklon berpeluang muncul di Samudra Hindia - Barat Bengkulu, Lampung, selatan Jawa hingga NTT dan selatan Papua," paparnya.
Menyikapi hal ini, BMKG memastikan langkah antisipasi terus berjalan. Pengawasan ketat terhadap dinamika atmosfer dan laut menjadi kunci.
"Karena itu, BMKG terus melakukan monitoring secara realtime kondisi atmosfer dan laut sebagai langkah untuk deteksi dini adanya potensi tersebut," pungkas Andri.
Jadi intinya, waspadalah. Cuaca ekstrem mungkin saja datang dari tempat lain.
Artikel Terkait
Simpanse Jenius Ai, Penghuni Laboratorium Kyoto University, Tutup Usia
Sahur Jadi Prime Time Baru di Era Digital, Trafik Internet Melonjak 90%
Redmi Note 15 Siap Hadapi Tantangan Ekstrem, Tahan Air 24 Jam dan Baterai 6 Tahun
Spirulina: Sumber Protein Masa Depan yang Tumbuh Subur di Bumi Tropis