Harga Emas Tertekan Dolar AS yang Menguat Akibat Inflasi AS Tinggi dan Kebuntuan Iran-Trump

- Kamis, 14 Mei 2026 | 09:15 WIB
Harga Emas Tertekan Dolar AS yang Menguat Akibat Inflasi AS Tinggi dan Kebuntuan Iran-Trump

Pergerakan harga emas menunjukkan variasi pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026, di tengah tekanan dari penguatan dolar Amerika Serikat setelah rilis data inflasi yang melampaui ekspektasi pasar. Sementara itu, para pelaku pasar mencermati perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya menantikan kunjungan Presiden Donald Trump ke Tiongkok di tengah kebuntuan negosiasi antara Washington dan Teheran.

Berdasarkan data pasar, harga emas spot tercatat turun 0,5 persen menjadi 4.691,22 dolar AS per ons. Di sisi lain, harga emas berjangka mengalami kenaikan tipis sebesar 0,3 persen menjadi 4.699,09 dolar AS per ons.

Analis pasar senior di Trade Nation, David Morrison, menjelaskan bahwa emas sebelumnya sempat mencapai level tertinggi dalam tiga minggu di kisaran 4.774 dolar AS. Namun, logam mulia tersebut gagal mempertahankan momentum penguatan dan segera mengalami koreksi.

"Ini tidak mengherankan mengingat penguatan dolar AS baru-baru ini," ujar Morrison.

Ia menambahkan bahwa dolar kembali diminati karena prospek gencatan senjata antara AS dan Iran yang tampaknya akan gagal, serta inflasi AS yang diukur dengan indeks harga konsumen (CPI) lebih tinggi dari perkiraan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS pun meningkat seiring investor memperhitungkan harga minyak yang tinggi dan kekhawatiran bahwa harga minyak mentah akan bertahan lebih lama dari prediksi sebelumnya.

"Kenaikan dolar AS yang sesuai kemudian mengurangi permintaan untuk aset yang tidak menghasilkan imbal hasil," tambah Morrison.

Inflasi menjadi tema utama pekan ini setelah para pelaku pasar menerima laporan CPI April pada hari Selasa dan data indeks harga produsen (PPI) pada hari Rabu. Biro Statistik Tenaga Kerja melaporkan bahwa PPI utama AS pada April naik 1,4 persen secara bulanan, mencatat kenaikan terbesar sejak Maret 2022. Secara tahunan, PPI utama melonjak enam persen, level tertinggi sejak Desember 2022. Angka tersebut jauh melampaui perkiraan analis yang memperkirakan kenaikan 0,5 persen secara bulanan dan 4,9 persen secara tahunan.

Data PPI ini mengikuti data CPI yang sebelumnya juga menunjukkan dampak signifikan dari kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah. Angka PPI mengindikasikan bahwa lonjakan harga minyak turut mendorong peningkatan biaya produksi.

Dengan inflasi AS yang jelas terpengaruh oleh guncangan harga minyak akibat perang Iran, bank sentral AS atau Federal Reserve kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tetap. Para pedagang bahkan meningkatkan ekspektasi terhadap potensi kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini. Data tersebut muncul pada masa transisi kepemimpinan Fed, di mana ketua petahana Jerome Powell akan mengakhiri masa jabatannya pada hari Jumat. Ia akan digantikan oleh Kevin Warsh, pilihan Trump yang telah dikonfirmasi Senat AS sebagai kepala Fed berikutnya pada hari Rabu.

Perlu dicatat bahwa baik CPI maupun PPI bersama-sama menjadi masukan bagi indikator inflasi pilihan Fed, yaitu indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti atau deflator PCE inti. Analis mencatat bahwa komponen PPI yang memengaruhi PCE cenderung jinak pada bulan April.

Di luar kalender ekonomi, kebuntuan antara AS dan Iran masih berlanjut setelah Trump awal pekan ini menyatakan bahwa gencatan senjata antara pihak-pihak yang bertikai berada dalam "kondisi kritis". Pernyataan itu muncul setelah Trump menolak tanggapan Teheran terhadap proposal yang didukung AS yang bertujuan mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.

Fokus kini beralih ke pertemuan puncak Trump pekan ini dengan mitranya Xi Jinping di Tiongkok. Kedua pemimpin diharapkan membahas ketegangan perdagangan, konflik Iran, Taiwan, dan rantai pasokan global. Trump mendarat di Beijing pada hari Rabu dan disambut dengan karpet merah. Presiden akan berpartisipasi dalam upacara kedatangan kenegaraan resmi pada hari Kamis, setelah itu ia akan bertemu dengan Xi dan menjalani beberapa sesi wawancara.

Para analis menyarankan bahwa Tiongkok, sebagai importir utama minyak mentah Iran, dapat dibujuk untuk bertindak sebagai penjamin kesepakatan perdamaian yang langgeng. Namun, beberapa pengamat telah menurunkan ekspektasi bahwa terobosan semacam itu dapat terjadi dari pertemuan tersebut. Perang Iran yang telah berlangsung lebih dari dua bulan telah mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur transit minyak global yang penting, sehingga memicu kekhawatiran akan inflasi berkelanjutan yang didorong oleh energi di berbagai negara di dunia.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar