Ketidakpastian ekonomi dan tekanan biaya hidup yang terus meningkat mulai mengubah peta perilaku finansial kelas menengah atas dan kelompok usia produktif di Indonesia, khususnya dalam sektor kesehatan. Konsumen kini dilaporkan jauh lebih berhati-hati dalam mengelola pengeluaran dan cenderung beralih menjadi lebih selektif serta berorientasi pada nilai atau value-oriented.
Head of Research RHB Sekuritas Indonesia, Andrey Wijaya, menjelaskan bahwa meskipun masyarakat tetap berbelanja, fokus utama mereka telah bergeser pada pemenuhan kebutuhan prioritas dan penjagaan dana darurat. “Konsumen tetap berbelanja, namun lebih fokus pada kebutuhan prioritas, promo, efisiensi pengeluaran, serta menjaga likuiditas dan dana darurat di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan biaya hidup,” ujarnya.
Masyarakat saat ini cenderung menunda keputusan pengeluaran besar yang bersifat opsional atau discretionary, seperti pembelian properti, kendaraan, hingga gaya hidup premium. Pengeluaran untuk liburan, renovasi, dan barang tersier menjadi aspek pertama yang dipertimbangkan ulang demi menjaga stabilitas arus kas atau cash flow.
Sementara itu, dalam sektor kesehatan, Andrey menilai industri ini relatif lebih bertahan atau defensif dibandingkan sektor konsumsi lainnya karena sifatnya yang krusial. Namun, bukan berarti tidak ada perubahan perilaku pada konsumen kesehatan. “Untuk kesehatan, masyarakat umumnya masih memprioritaskan kebutuhan medis utama, namun pengeluaran yang sifatnya elective atau non-urgent mulai lebih selektif,” tuturnya.
Perubahan perilaku medis terlihat dari kecenderungan masyarakat untuk menunda tindakan non-mendesak atau lebih memilih layanan yang efisien dengan memanfaatkan asuransi serta BPJS. Konsumen kini lebih aktif membandingkan harga dan kualitas layanan sebelum mengambil keputusan medis.
Di sisi lain, salah satu pergeseran signifikan diperkirakan terjadi pada tren berobat ke luar negeri. Pelemahan nilai tukar rupiah dan tingginya biaya perjalanan menjadi faktor utama yang memaksa masyarakat untuk berhitung ulang. Kondisi ini dipandang sebagai peluang bagi rumah sakit domestik untuk menarik kembali pasar kelas menengah atas dengan menawarkan layanan yang bersaing secara kualitas namun tetap efisien dari sisi biaya.
“Keputusan untuk berobat ke luar negeri kemungkinan mulai lebih dipertimbangkan ulang, terutama dengan pelemahan rupiah dan tingginya biaya perjalanan. Sebagian masyarakat mungkin menunda treatment, mengurangi frekuensi medical check-up di luar negeri, atau mulai mempertimbangkan rumah sakit domestik yang kualitas layanannya semakin kompetitif,” kata Andrey.
Artikel Terkait
PLIN Fokus Revitalisasi Aset Utama untuk Dongkrak Kinerja pada 2026
PLN Luncurkan Kampanye Green Future Powered Today, Tukar Poin Naik MRT dan Bus Listrik dengan Voucher Listrik
Libur Panjang Akhir Pekan, Ribuan Pengunjung Padati Kebun Binatang Ragunan Sejak Pagi
Kapolda Metro Jaya Naik Pangkat Jadi Bintang Tiga, Kompolnas Ingatkan Tanggung Jawab Pelayanan Publik