Harga minyak dunia benar-benar menggila. Sentuhannya bahkan sudah menembus angka 100 dolar AS per barel, jauh melampaui asumsi APBN yang cuma di level 70 dolar. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia akhirnya angkat bicara soal lonjakan ekstrem ini, Senin (9/3/2026) di kantornya.
Menurut Bahlil, situasi global lagi panas. Eskalasi konflik antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat memicu kekacauan, berujung pada penutupan Selat Hormuz. Padahal, selat sempit itu adalah urat nadi perdagangan energi global, dengan pangsa pasar yang mencapai seperlima dari total pasokan.
"Memang kalau kita melihat, posisi harga minyak dunia sekarang sudah melampaui 100 dolar AS per barel," ucap Bahlil.
Dia melanjutkan, "Inilah yang terjadi di global akibat dampak dari perang Iran melawan Israel dan Amerika."
Lantas, bagaimana dampaknya di dalam negeri? Bahlil berusaha menenangkan. Pemerintah, kata dia, belum punya rencana untuk menaikkan harga BBM subsidi. Masyarakat tak perlu khawatir, setidaknya sampai hari raya nanti.
"Tapi sekali lagi saya pastikan agar masyarakat tidak usah merasa gimana menyangkut dengan harga, karena sampai dengan hari raya ini insyaallah enggak ada kenaikan harga BBM untuk subsidi," tuturnya.
Namun begitu, ceritanya bakal beda untuk BBM non-subsidi. Harganya akan tetap mengikuti gejolak pasar, naik-turun sesuai volatilitas yang terjadi.
Di sisi lain, soal stok nasional disebutkan aman. Ketersediaan BBM dipastikan cukup hingga 21 hari ke depan. Masalahnya justru ada di anggaran. Dengan harga minyak yang melonjak jauh di atas asumsi, ancaman pembengkakan subsidi energi jadi sangat nyata. Ini yang sedang jadi perhatian serius pemerintah.
"Problem kita sekarang bukan stok, stok tidak ada masalah, sudah ada semua," jelas Bahlil.
"Kita itu sekarang tinggal di harga. Nah kita sekarang sedang men-exercise untuk melakukan langkah yang komprehensif," tambahnya.
Data perdagangan hari itu benar-benar menunjukkan situasi mencekam. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melesat 13,53 persen ke level 103,2 dolar AS per barel. Sementara minyak acuan Brent malah lebih gila lagi, menguat 16,19 persen ke posisi 107,7 dolar. Angka-angka yang, jujur saja, bikin pemerintah harus berpikir ekstra keras.
Artikel Terkait
Raffi Ahmad Bantah Terlibat Kasus Suap Bea Cukai, Sebut Video Viral Hanya Basa-Basi di New York
Gubernur BI dan Menkeu Berturut-turut Kunjungi China, Perkuat Kerja Sama Keuangan dan Perdagangan Bilateral
BGN Hentikan Program Makan Bergizi Gratis untuk Keluarga Mampu, Fokus pada Anak dari Kelompok Kurang Mampu
Korea Selatan vs Republik Ceko Buka Piala Dunia 2026 di Guadalajara