Dalam sebuah unggahan di media sosial, Velayati menegaskan, "Jika Gedung Putih berani mengulangi kesalahan bodohnya, mereka akan segera menyadari bahwa aliran energi dan perdagangan global dapat terguncang hanya dengan satu gerakan."
Memang, letaknya yang strategis membentang antara Yaman dan Djibouti menjadikan selat ini sangat vital. Sekitar 12 persen minyak dunia melewati jalur sempit ini. Ia adalah pintu gerbang perdagangan antara Asia dan Eropa. Jadi, gangguan di sini dampaknya akan langsung terasa global, terutama di pasar energi yang sudah rentan.
Ini bukan pertama kalinya kawasan itu memanas. Tahun lalu, kelompok Houthi dari Yaman yang punya hubungan dekat dengan Teheran sudah mulai menyerang kapal di Laut Merah. Aksi mereka disebut sebagai respons atas perang di Gaza. Dan posisi mereka semakin jelas ketika secara resmi bergabung dengan perang Iran melawan AS dan Israel akhir Maret lalu, dengan meluncurkan rudal ke Israel selatan.
Jadi, ancaman Iran ini bukan sekadar gertakan. Mereka punya sekutu di lapangan dan menguasai titik-titik choke point yang bisa mengacaukan ekonomi dunia. Situasinya makin runyam, dan dunia hanya bisa menunggu langkah AS berikutnya.
Artikel Terkait
Auditor BPKP Ungkap Kerugian Negara Rp1,5 Triliun dari Pengadaan Chromebook
Pemerintah Coret 11.014 Penerima Bansos karena Tidak Tepat Sasaran
Gus Ipul: Wacana Penebalan Bansos 2026 Masih Tahap Pembahasan, Tunggu Keputusan Presiden
AS Pertimbangkan Serangan Terbatas atau Blokade Maritim ke Iran