Angka yang baru dirilis ini sungguh mencengangkan. Sepanjang tahun 2025 lalu, otoritas Iran tercatat telah mengeksekusi mati setidaknya 1.639 orang. Ini bukan sekadar statistik biasa. Jumlah itu merupakan yang tertinggi dalam tiga dekade terakhir, atau tepatnya sejak tahun 1989.
Laporan ini datang dari dua kelompok HAM: Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia dan Together Against the Death Penalty (ECPM) dari Prancis. Mereka merilis data tersebut dalam laporan tahunan gabungan, seperti dikutip AFP pada Senin (13/4/2026).
Yang mengkhawatirkan, trennya justru naik drastis. Angka tahun 2025 itu menunjukkan lonjakan 68 persen dibanding tahun sebelumnya, di mana 975 orang dieksekusi. Di antara ribuan nyawa yang hilang itu, tercatat pula 48 perempuan yang dihukum gantung.
Menurut sejumlah saksi, situasi politik dalam negeri membuat kekhawatiran ini makin nyata. IHR dan ECPM secara khusus mengingatkan, Teheran berisiko menggunakan hukuman mati lebih luas lagi. Apalagi setelah gelombang unjuk rasa antipemerintah yang marak awal tahun lalu, ditambah ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel yang belum juga reda.
Laporan gabungan itu memperingatkan dengan nada tegas.
Jika Iran bertahan dari krisis saat ini, ada risiko serius bahwa eksekusi akan digunakan secara lebih luas lagi sebagai alat penindasan dan represi.
Perlu diingat, angka 1.639 itu mungkin masih jauh dari realita sebenarnya. IHR menerapkan syarat ketat, membutuhkan konfirmasi dari dua sumber independen untuk setiap kasus. Mengingat banyak eksekusi yang tak pernah diberitakan media resmi Iran, angka tersebut diyakini hanya "minimum absolut".
Coba bayangkan. Angka itu setara dengan lebih dari empat eksekusi setiap harinya. Sebuah ritme yang suram dan terus berulang.
Sejak IHR mulai mendokumentasikannya pada 2008, inilah rekor tertinggi yang pernah tercatat. Dan kalau kita mundur lebih jauh, situasi serupa terakhir terjadi pada 1989, di tahun-tahun awal revolusi Islam. Sebuah periode kelam yang seakan ingin diulang.
Artikel Terkait
Mendagri Serahkan Satyalancana Wira Karya kepada Tujuh Kepala Daerah atas Inovasi Kelautan dan Perikanan
Tersangka Tabrak Lari Siswa SD di Pandeglang Dilantik Jadi Staf Ahli Bupati, Belum Masuk Kerja karena Sakit
Presiden Prabowo Tunjuk Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional yang Baru
Puspa Agro Jatim Luncurkan Situs Resmi untuk Digitalisasi Sewa Lahan dan Infrastruktur