Sabtu pagi di Islamabad, dua pesawat Angkatan Udara AS mendarat di pangkalan udara. Di dalamnya, delegasi Amerika Serikat yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance, siap untuk sebuah misi yang sangat berat: berunding dengan Iran. Pembicaraan damai ini, yang dimulai hari itu, bertujuan mengakhiri perang selama enam minggu yang melanda Timur Tengah.
Menurut sejumlah saksi, delegasi Iran sendiri sudah lebih dulu tiba sejak Jumat. Mereka dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi. Pertemuan di Pakistan ini bukan hal biasa. Ini akan jadi pembicaraan tingkat tertinggi antara AS dan Iran sejak Revolusi Islam 1979. Bahkan, jika nantinya terjadi negosiasi tatap muka langsung, itu akan menjadi yang pertama sejak 2015 silam.
Waktu itu, kedua negara sempat mencapai kesepakatan soal program nuklir Iran. Namun suasana berubah drastis.
Presiden Donald Trump membatalkan kesepakatan nuklir itu di tahun 2018. Tak lama setelahnya, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang tewas di awal peperangan enam minggu ini secara tegas melarang pembicaraan langsung lebih lanjut antara pejabat AS dan Iran. Larangan itulah yang membuat pertemuan di Islamabad sekarang terasa begitu bersejarah.
Di sisi lain, jalan menuju meja perundingan ternyata sudah disiapkan. Beberapa sumber di Islamabad mengungkapkan, diskusi pendahuluan telah diadakan secara terpisah oleh pejabat Pakistan dengan tim pendahulu dari kedua belah pihak. Persiapan dilakukan dengan hati-hati.
Artikel Terkait
Anthropic Pertimbangkan Rancang Chip AI Sendiri di Tengah Lonjakan Pendapatan
Bank Dunia Proyeksikan Pertumbuhan Vietnam dan Thailand Anjlok Imbas Konflik Timur Tengah
Wagub Rano Karno Tegaskan Halal Bihalal Jakarta Milik Semua Warga
Stasiun JIS Ditargetkan Beroperasi Juni 2026, Dukung Tren Kenaikan Penumpang KRL