Rabies: Saat Kewaspadaan Kita Hanya Bangkit Setelah Ada yang Tewas

- Kamis, 15 Januari 2026 | 05:06 WIB
Rabies: Saat Kewaspadaan Kita Hanya Bangkit Setelah Ada yang Tewas

Rabies punya pola yang klise: ada korban, publik heboh, lalu semua terlupakan. Kita seperti baru teringat saat bencana sudah di depan mata. Padahal, penyakit ini tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya mengintai di balik kelengahan kita. Ambil contoh tahun 2025 lalu, lebih dari 20 kasus sempat viral di media sosial. Dari angka itu, dua belas nyawa tak tertolong.

Yang ironis, rabies sebetulnya bukan penyakit misterius. Angka kematiannya memang nyaris 100 persen begitu gejala muncul, tapi sepenuhnya bisa dicegah kalau penanganannya cepat. Semua orang tahu ini. Masalahnya bukan soal kurang ilmu, tapi lebih pada sikap kita yang suka menunda-nunda kewaspadaan.

Datang Saat Kita Lalai

Di pelosok desa, bahkan kawasan wisata sekalipun, gigitan atau cakaran hewan kerap dianggap remeh. Luka kecil cuma dibersihkan seadanya, lalu dilupakan. "Ah, hewannya kelihatan sehat," begitu pikir kita. Rasa aman palsu itulah yang justru membuka pintu lebar-lebar bagi rabies.

Kita sering mengira rabies cuma urusan "kasus besar" atau kejadian langka. Padahal, penyakit ini justru berkembang dalam keseharian yang biasa: interaksi dekat dengan hewan, pengelolaan hewan yang serampangan, dan respons yang telat terhadap luka sekecil apa pun.

Jangan Cuma Fokus pada Anjing

Selama ini, rabies seolah identik dengan gigitan anjing. Akibatnya, muncul anggapan keliru bahwa kontak dengan hewan lain lebih aman. Padahal, kucing, monyet, dan kelelawar juga bisa menularkannya.

Di beberapa negara, kelelawar bahkan jadi sumber utama penularan rabies ke manusia. Sayangnya, pemahaman ini masih lemah di masyarakat kita. Gigitan monyet di tempat wisata, misalnya, sering dianggap insiden biasa, bukan darurat medis. Rasa aman yang salah inilah yang bikin penanganan kerap molor.

Budaya Kita yang Suka Menyepelekan


Halaman:

Komentar