Bareskrim Polri kini mengejar dua buronan. Mereka adalah Hamid, yang biasa dipanggil Boy, dan Satriawan alias Awan. Keduanya terkait jaringan narkoba yang menggurita, bahkan melibatkan oknum polisi.
Boy, seorang bandar, disebut-sebut pernah menyetor uang pengamanan yang tak sedikit. Penerimanya adalah eks Kasat Narkoba Polres Bima Kota, AKP Malaungi. Nilainya mencapai Rp8 miliar! Menariknya, sebagian dari uang itu konon disalurkan lagi ke mantan Kapolres Bima Kota, AKBP Didik Putra Kuncoro.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim, Brigjen Eko Hadi Santoso, mengonfirmasi hal ini. "Bahwa DPO atas nama Hamid alias Boy dan DPO atas nama Satriawan alias Awan, saat ini dilakukan pencarian dan pengejaran bersama oleh Petugas Dittipidnarkoba Bareskrim Polri dan Ditresnarkoba Polda NTB," ujarnya pada Senin (2/3/2026).
Nama Boy muncul ke permukaan setelah penyidik memeriksa Malaungi. Tersangka itu mengaku, antara Juni hingga November 2025, ia menerima uang dari Boy sebesar Rp1,8 miliar.
“Sebagai bentuk uang atensi, yang kemudian diserahkan kepada eks Kapolres Bima Kota AKBP Didik Putra Kuncoro di Uma Lengge yang berada di lingkungan Mapolres Bima Kota,” jelas Eko.
Sementara itu, buronan kedua, Satriawan alias Awan, berperan sebagai kurir. Dia mengantar satu kilogram sabu untuk jaringan bandar Erwin Iskandar atau yang dikenal sebagai Ko Erwin.
Polisi telah menyiapkan ciri-ciri keduanya. Boy digambarkan bertinggi sekitar 171 cm, gemuk, kulit sawo matang, dengan rambut hitam bergelombang dan muka lonjong. Sedangkan Awan lebih pendek, 160 cm, berkulit putih, rambut pendek beruban dan agak botak, dengan ciri khas gigi depan ompong satu dan luka besar di kaki.
Perkembangan terbaru, Ko Erwin sendiri ternyata sudah diamankan. Dia diduga kuat sebagai pihak yang menyetorkan uang dan narkoba kepada mantan Kapolres Didik.
Eko Hadi Santoso membenarkan penangkapan itu. "Benar bahwa DPO Erwin telah ditangkap oleh Tim Gabungan Subdit IV dan Satgas NIC Dittipidnarkoba Bareskrim Polri," katanya pada Jumat lalu (27/2/2026).
Kasus ini kian menunjukkan betapa rumitnya jaringan narkoba yang beroperasi. Keterlibatan oknum aparat, aliran uang miliaran, dan daftar buronan yang masih berkeliaran, menjadi tantangan berat bagi Bareskrim. Pengejaran masih terus berlangsung.
Artikel Terkait
KAI Catat Rekor Penumpang Wisman Tertinggi dalam Lima Tahun Terakhir
Penyidikan Ijazah Jokowi: 130 Saksi Diperiksa, 25 Ahli Dimintai Keterangan
TNI Bantah Keterlibatan dalam Penembakan Anak di Sinak, Papua Tengah
Mentan Desak Bareskrim Usut Otak Penyelundupan 23 Ton Pangan di Pontianak