Kapal Penarik UEA Diserang Rudal di Selat Hormuz, 4 WNI Luka dan 3 Hilang

- Minggu, 08 Maret 2026 | 18:20 WIB
Kapal Penarik UEA Diserang Rudal di Selat Hormuz, 4 WNI Luka dan 3 Hilang

Insiden berbahaya kembali mengguncang perairan Selat Hormuz yang memang sudah lama memanas. Menurut laporan perusahaan keamanan maritim Vanguard Tech, sebuah kapal penarik berbendera Uni Emirat Arab, Mussafah 2, terkena dua rudal. Kapal itu sedang dalam misi tolong-menolong, berusaha mendekati kapal kontainer Safeen Prestige yang sebelumnya dilaporkan mengalami kendala hingga terdampar.

Yang membuat kita miris, di atas kapal penarik itu ada sejumlah Warga Negara Indonesia. Serangan itu pun tak terelakkan, menimbulkan korban jiwa di antara para ABK. Pemerintah kita, lewat Ditjen Perlindungan WNI dan KBRI, dikabarkan sudah bergerak cepat menangani situasi darurat ini.

Berdasarkan informasi sementara, empat WNI mengalami luka-luka. Sayangnya, nasib tiga lainnya masih gelap mereka dinyatakan hilang. Pencarian pun dikabarkan tak mudah, mengingat situasi keamanan di sana sangat tegang dan rawan.

Merespon kejadian ini, pengamat Hukum Internasional Muhammad Arbani mendesak pemerintah untuk bersikap tegas.

"Jika benar kapal tersebut menjadi sasaran rudal dari pihak yang sedang berkonflik, maka pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri perlu menunjukkan sikap tegas atas serangan yang menimpa para WNI, meskipun kapal yang mereka tumpangi berbendera negara lain,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Minggu (8/3/2026).

Arbani, yang juga dosen di STIH Adhyaksa, menekankan pentingnya investigasi menyeluruh. Menurutnya, kita harus tahu pasti apa penyebab ledakan itu: kecelakaan teknis, sabotase, atau memang serangan yang terkait konflik bersenjata di kawasan itu.

Dia lantas mengingatkan prinsip hukum humaniter internasional. Pada dasarnya, serangan yang menyasar warga sipil itu dilarang.

"Target militer dalam konflik bersenjata seharusnya hanya ditujukan kepada anggota angkatan bersenjata yang terlibat dalam pertempuran," tegasnya.

Namun begitu, realitanya seringkali berbeda. Dalam konflik modern sekarang, kapal-kapal yang berkaitan dengan aktivitas ekonomi strategis seperti tanker minyak sering tidak lagi dianggap netral. Mereka dilihat sebagai bagian dari kepentingan ekonomi vital yang sah untuk diserang.

“Kondisi ini berisiko karena di dalam kapal-kapal tersebut sering kali terdapat warga sipil dari berbagai negara yang seharusnya dilindungi dan tidak dijadikan objek serangan,” tambah Arbani.

Memang, situasi di Selat Hormuz itu ruwet. Mendapatkan informasi akurat di tengah ketegangan seperti ini adalah tantangan besar sendiri. Karena itulah, Arbani menilai kerja sama diplomatik yang intens dengan negara sekitar, seperti UEA dan Oman, menjadi kunci. Tidak hanya untuk mengungkap fakta, tapi juga untuk memastikan keselamatan WNI kita yang masih terjebak di zona rawan.

Insiden ini sekali lagi mengingatkan betapa rapuhnya keselamatan warga sipil di tengah gejolak geopolitik. Semoga korban segera ditemukan dan diplomasi kita bisa berbicara lantang.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar