Insiden berbahaya kembali mengguncang perairan Selat Hormuz yang memang sudah lama memanas. Menurut laporan perusahaan keamanan maritim Vanguard Tech, sebuah kapal penarik berbendera Uni Emirat Arab, Mussafah 2, terkena dua rudal. Kapal itu sedang dalam misi tolong-menolong, berusaha mendekati kapal kontainer Safeen Prestige yang sebelumnya dilaporkan mengalami kendala hingga terdampar.
Yang membuat kita miris, di atas kapal penarik itu ada sejumlah Warga Negara Indonesia. Serangan itu pun tak terelakkan, menimbulkan korban jiwa di antara para ABK. Pemerintah kita, lewat Ditjen Perlindungan WNI dan KBRI, dikabarkan sudah bergerak cepat menangani situasi darurat ini.
Berdasarkan informasi sementara, empat WNI mengalami luka-luka. Sayangnya, nasib tiga lainnya masih gelap mereka dinyatakan hilang. Pencarian pun dikabarkan tak mudah, mengingat situasi keamanan di sana sangat tegang dan rawan.
Merespon kejadian ini, pengamat Hukum Internasional Muhammad Arbani mendesak pemerintah untuk bersikap tegas.
Arbani, yang juga dosen di STIH Adhyaksa, menekankan pentingnya investigasi menyeluruh. Menurutnya, kita harus tahu pasti apa penyebab ledakan itu: kecelakaan teknis, sabotase, atau memang serangan yang terkait konflik bersenjata di kawasan itu.
Artikel Terkait
Commuter Line Merak Berhenti di Cilegon Sementara, Antisipasi Arus Mudik Lebaran
SKK Migas dan Kontraktor Tandatangani Amendemen PJBG, Lifting Minyak Diproyeksi Naik 11.693 Barel per Hari
Calon Komisioner OJK Soroti Ancaman Siber dan Rendahnya Literasi Keuangan
Persiapan Mudik: Lima Pengecekan Kendaraan Wajib untuk Hindari Mogok di Jalan