Wall Street memasuki awal pekan dengan mata yang tetap awas. Sentimen seputar kecerdasan buatan, yang berpotensi mengacak-acak banyak sektor bisnis, masih menggantung di udara. Tak hanya itu, laporan ketenagakerjaan AS bulanan juga bakal jadi sorotan utama para pelaku pasar.
Dalam beberapa pekan terakhir, kekhawatiran soal disrupsi AI benar-benar menyita perhatian. Sektor-sektor seperti perangkat lunak, manajemen kekayaan, dan jasa real estat sudah merasakan dampaknya harga sahamnya terpukul cukup dalam. Investor sepertinya masih bingung, mencoba memetakan mana perusahaan yang akan tergusur dan mana yang justru akan meraup untung besar dari gelombang teknologi baru ini.
Kristina Hooper, Kepala Strategi Pasar di Man Group, menyuarakan hal itu. "Masih ada tarik-ulur soal siapa yang akan menjadi korban dan siapa yang justru akan keluar sebagai pemenang karena mampu memanfaatkan AI, alih-alih tergantikan olehnya," katanya.
Laporan kinerja Nvidia yang fenomenal beberapa waktu lalu, anehnya, justru gagal menenangkan pasar. Malah sebaliknya. Saham raksasa chip itu anjlok lebih dari 5 persen Kamis lalu, dan imbasnya terasa ke sektor teknologi secara keseluruhan. Tampaknya, saham-saham software masih sangat rentan terhadap setiap kabar, baik atau buruk, yang berkaitan dengan AI.
Artikel Terkait
JSI Sinergi Mas Gelar Tender Wajib Saham LAPD Rp84,2 Miliar
Analis Proyeksi IHSG Berpeluju ke Level 8.650, Soroti Saham INDY hingga UNVR
Bursa Abu Dhabi dan Dubai Ditutup Dua Hari Imbas Ketegangan Militer di Teluk
Pasar Global Waspadai Data Ekonomi dan Eskalasi Konflik Timur Tengah