Analis Proyeksikan Kenaikan Harga Minyak dan Emas Usai Ketegangan AS-Israel-Iran

- Senin, 02 Maret 2026 | 06:40 WIB
Analis Proyeksikan Kenaikan Harga Minyak dan Emas Usai Ketegangan AS-Israel-Iran

Sentimen pasar global kembali diguncang. Pemicunya? Serangan gabungan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang memicu eskalasi besar di Timur Tengah. Konflik ini, yang disebut-sebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, langsung menyeret kawasan ke dalam ketegangan baru.

Iran tak tinggal diam. Mereka membalas dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel. Sementara itu, negara-negara produsen minyak di Teluk Arab dilaporkan siaga penuh. Israel sendiri menetapkan status darurat, dan penutupan wilayah udara oleh sejumlah negara semakin memperbesar kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.

Nah, di tengah situasi mencekam ini, riset dari NH Korindo Sekuritas Indonesia dan BRI Danareksa Sekuritas justru melihat adanya katalis positif di baliknya. Meski mengakui risiko bagi pasar saham secara umum, kedua analis ini kompak menilai ketegangan geopolitik bisa menjadi angin segar bagi emas dan saham-saham sektor energi.

Menurut Ezaridho Ibnutama, Head of Research NH Korindo, kehadiran militer AS di sekitar Iran sebenarnya sudah diperkuat sejak awal tahun. Bahkan Presiden AS Donald Trump disebut memberi sinyal soal kemungkinan perubahan rezim di Teheran. Konflik yang terjadi sekarang, kata mereka, membenarkan peningkatan premi risiko untuk aset-aset safe haven seperti emas.

Selain itu, ada satu titik krusial yang jadi perhatian: Selat Hormuz.

Sebagai jalur vital distribusi minyak dunia, gangguan di sana bisa memicu lonjakan biaya logistik yang drastis. NH Korindo memperkirakan tarif angkut kapal tanker raksasa (VLCC) akan terus meroket seiring tingginya risiko pengiriman. Kondisi ini, tak pelak, berpotensi menjadi katalis bagi emiten tanker minyak seperti BULL, SOCI, HUMI, dan GTSI.

Di sisi lain, laporan Weekly Stocks dari BRI Danareksa Sekuritas menyoroti sentimen risk-off yang mendorong pelarian dana. Harga minyak WTI sudah merangkak naik, mendekati level tertinggi tujuh bulan. Yang lebih panas lagi, minyak Brent disebut melonjak sekitar 10 persen dalam perdagangan di luar bursa.

Beberapa analis bahkan punya prediksi yang lebih ekstrem: harga berpotensi menembus USD100 per barel jika gangguan pasokan ini berlarut-larut.

Sementara itu, emas juga ikut meroket. Logam mulia itu melonjak hampir 1 persen, menembus level USD5.220 per troy ons. Dorongannya jelas: permintaan aset safe haven di tengah gejolak geopolitik dan tekanan inflasi yang masih membayangi. Arus dana ke obligasi jangka panjang turut menjaga daya tariknya, meski harapan untuk penurunan suku bunga AS tampaknya mundur.

Lalu, saham apa yang direkomendasikan?

BRI Danareksa melihat peluang di PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) seiring penguatan harga emas. Secara teknikal, ARCI dinilai mampu memantul dari area 1.765 dengan target resistance di 1.955-2.070.

Untuk sektor energi, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) direkomendasikan untuk dibeli di area 1.650-1.700. Targetnya? 1.755 hingga 1.835, dengan batas stop loss di bawah 1.550.

Ada juga PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Saham ini dinilai berpotensi melanjutkan tren bullish menuju 1.970-2.250, asalkan mampu menembus resistance di 1.670-1.760. Kinerja perusahaan yang cukup bagus, dengan laba bersih tumbuh 21 persen pada 2025, bisa menjadi penopang.

Namun begitu, semua peluang ini datang dengan peringatan keras. BRI Danareksa mengingatkan, pasar saham khususnya di negara berkembang tetap berisiko mengalami tekanan berat jika ketidakpastian geopolitik ini terus berlanjut. Situasinya sangat fluktuatif.

Catatan: Keputusan untuk membeli atau menjual saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar