Rabies juga cermin dari budaya kesehatan kita yang reaktif. Luka kecil dianggap nggak berbahaya kalau nggak langsung bengkak atau demam. Kita terbiasa menunggu gejala, padahal dalam kasus rabies, menunggu sama saja dengan mengundang maut.
Virus rabies bisa mengendap dalam tubuh berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, tanpa tanda yang jelas. Begitu gejalanya muncul, segalanya sudah terlambat. Fakta ini seharusnya membuat setiap gigitan hewan ditangani dengan serius. Tapi kenyataannya? Belum begitu.
Dari Panik Sesaat ke Kewaspadaan yang Konsisten
Setiap kali rabies ramai, respons kita cuma sesaat. Ada kampanye kilat, vaksinasi terbatas, lalu hilang lagi. Padahal, pencegahan rabies butuh kewaspadaan jangka panjang, bukan reaksi dadakan.
Intinya, rabies harus dipahami sebagai isu kesehatan masyarakat yang terkait erat dengan lingkungan dan perilaku kita. Selama interaksi dengan hewan tidak dibarengi kesadaran risiko, rabies akan terus punya jalan.
Waspada Sebelum Terlambat
Pertanyaan besarnya sekarang bukan lagi "apakah rabies berbahaya?" – kita semua sudah tahu jawabannya. Pertanyaannya adalah, "kenapa kita selalu baru waspada setelah ada korban?"
Selama pola pikir ini bertahan, rabies akan terus berulang. Pencegahan sejati dimulai dari hal sederhana: anggap setiap gigitan dan cakaran hewan sebagai ancaman serius, jauh sebelum semuanya terlambat.
Artikel Terkait
Biodiesel B50 Ditunda, Harga CPO Malaysia Tergerus Sentimen Negatif
Yamaha XMAX 250 Connected Dapat Warna Baru, Harga Tetap Stabil
KPK Geledah Pusat Pajak, Buru Aliran Suap Pengurang Pajak
Dua Remaja Pelaku Pelecehan di Kembangan Ditangkap Usai Aksi Viral