Rabies: Saat Kewaspadaan Kita Hanya Bangkit Setelah Ada yang Tewas

- Kamis, 15 Januari 2026 | 05:06 WIB
Rabies: Saat Kewaspadaan Kita Hanya Bangkit Setelah Ada yang Tewas

Rabies juga cermin dari budaya kesehatan kita yang reaktif. Luka kecil dianggap nggak berbahaya kalau nggak langsung bengkak atau demam. Kita terbiasa menunggu gejala, padahal dalam kasus rabies, menunggu sama saja dengan mengundang maut.

Virus rabies bisa mengendap dalam tubuh berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, tanpa tanda yang jelas. Begitu gejalanya muncul, segalanya sudah terlambat. Fakta ini seharusnya membuat setiap gigitan hewan ditangani dengan serius. Tapi kenyataannya? Belum begitu.

Dari Panik Sesaat ke Kewaspadaan yang Konsisten

Setiap kali rabies ramai, respons kita cuma sesaat. Ada kampanye kilat, vaksinasi terbatas, lalu hilang lagi. Padahal, pencegahan rabies butuh kewaspadaan jangka panjang, bukan reaksi dadakan.

Intinya, rabies harus dipahami sebagai isu kesehatan masyarakat yang terkait erat dengan lingkungan dan perilaku kita. Selama interaksi dengan hewan tidak dibarengi kesadaran risiko, rabies akan terus punya jalan.

Waspada Sebelum Terlambat

Pertanyaan besarnya sekarang bukan lagi "apakah rabies berbahaya?" – kita semua sudah tahu jawabannya. Pertanyaannya adalah, "kenapa kita selalu baru waspada setelah ada korban?"

Selama pola pikir ini bertahan, rabies akan terus berulang. Pencegahan sejati dimulai dari hal sederhana: anggap setiap gigitan dan cakaran hewan sebagai ancaman serius, jauh sebelum semuanya terlambat.


Halaman:

Komentar