Ambil contoh di Bandara Soekarno-Hatta. Harga per liter avtur melesat dari Rp13.656 di Maret menjadi Rp23.551 di April. Dampaknya langsung terasa.
Maskapai seperti Garuda Indonesia sempat mengajukan kenaikan biaya sekitar Rp7,9 juta per jemaah. Maskapai Saudia dari Arab Saudi juga mengusulkan penambahan sekitar USD480 per orang. Situasi ini tentu bisa memberatkan.
Namun begitu, keputusan Presiden Prabowo Subianto akhirnya mengubah segalanya. Instruksinya jelas: lindungi jemaah.
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, yang menegaskan hal ini. "Negara ambil alih beban tersebut melalui dana efisiensi dari APBN, maka jemaah tidak perlu membayar beban kenaikan tersebut. Diputuskan oleh Presiden Prabowo dibayarkan langsung oleh APBN, dengan nilai total Rp1,77 triliun,"
ujar Dahnil.
Jadi, dengan intervensi fiskal ini, para jemaah bisa bernapas lega. Mereka tetap membayar sesuai biaya awal yang sudah disepakati jauh-jauh hari. Fluktuasi harga energi global yang tak menentu tak lagi jadi beban di pundak mereka. Semua sudah dijamin negara.
Artikel Terkait
Pemerintah dan Arab Saudi Pastikan Haji 2026 Aman dan Biaya Turun Rp2 Juta
Pemerintah Jamin Biaya Haji 2026 Tak Naik Meski Ada Dampak Konflik Timur Tengah
Presiden Prabowo Tegaskan Kunjungan Luar Negeri untuk Jamin Pasokan Minyak
Mensos Gus Ipul Uji Coba Mobil Listrik Hasil Undian Tak Terklaim untuk Operasional