Dia bahkan berpendapat, kekhawatiran negara lain soal keselamatan pelayaran di kawasan itu "tidak ada kaitannya" dengan Iran. Meski begitu, banyak operator kapal memilih menunda pelayaran karena risiko keamanan yang nyata.
Ketegangan ini meledak setelah serangan AS dan Israel akhir Februari lalu, yang dibalas Iran dengan menyerang wilayah Israel serta pangkalan AS di Timur Tengah. Situasi itu langsung mengganggu aktivitas pelayaran di Teluk.
Tapi ancaman Iran ternyata lebih jauh. Mereka menyatakan akan menutup total Selat Hormuz jika AS berani menyerang pembangkit listrik mereka. Ancaman balasan juga mengarah ke infrastruktur energi dan air di seluruh kawasan.
Peringatan keras itu dilontarkan setelah Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka.
Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran, dengan tegas menegaskan posisi mereka di media sosial.
“Segera setelah pembangkit listrik dan infrastruktur di negara kita menjadi sasaran, infrastruktur vital serta infrastruktur energi dan minyak di seluruh wilayah akan dianggap sebagai sasaran yang sah dan akan dihancurkan secara permanen,” tulis Ghalibaf.
Jadi, di tengah rencana saling memungut biaya, ancaman yang bergulir justru jauh lebih besar. Kedua pihak seperti bermain api di jalur perdagangan minyak paling vital di dunia.
Artikel Terkait
Mister Aladin Tawarkan Tiket Jakarta-Bangkok Rp 4,3 Jutaan untuk Akhir Mei 2026
Zaskia Adya Mecca dan Tim Hadapi Sidang Kosong, Jadwal Kasus Pemukulan Kembali Tak Jelas
Bareskrim Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Bersubsidi, Rugikan Negara Rp1,2 Triliun
Bank Mandiri Salurkan Kredit Infrastruktur Rp491,63 Triliun, Tumbuh 31%