Raymond/Joaquin Terhenti di Perempat Final Orleans Masters
JAKARTA – Harapan ganda putra Indonesia, Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin, untuk melangkah lebih jauh di Orleans Masters 2026 pupus sudah. Mereka harus menyerah pada pasangan Denmark, Christian Faust Kjær dan Rasmus Kjæer, dalam duel sengit tiga gim yang berlangsung di Palais Des Sports, Orleans, Jumat lalu.
Skor akhir 18-21, 21-12, dan 14-21 cukup menggambarkan ketatnya pertandingan. Mereka sempat bangkit di gim kedua, menunjukkan permainan yang solid. Namun, di gim penentuan, semuanya berubah.
Raymond Indra tak menyembunyikan rasa kecewanya. Meski begitu, dia bersyukur bisa keluar dari lapangan dalam kondisi fisik yang baik. "Yang jelas, kami pulang tanpa cedera. Itu sisi positifnya," ujarnya.
Namun begitu, dia mengakui ada momen krusial yang luput dari kendali mereka.
"Kunci di awal gim ketiga, kami terlalu terburu-buru dan tidak tenang. Tidak seperti di gim kedua. Ini jadi evaluasi kami ke depan untuk menjaga fokus saat rubber game," kata Raymond.
Menurutnya, permainan yang tadinya mengalir tiba-tiba menjadi kacau. Mereka kehilangan ritme dan kesabaran di saat-saat yang justru paling menentukan.
Belajar dari Tur Eropa yang Melelahkan
Kekalahan ini bukan sekadar soal satu pertandingan yang gagal. Raymond menyoroti tantangan berat yang mereka hadapi selama tur Eropa 2026 ini. Jadwal yang padat dari All England, Swiss Open, hingga Orleans Masters menuntut adaptasi yang sangat cepat.
Dan adaptasi itu ternyata tak semudah membalik telapak tangan. Salah satu kendala teknis yang mereka hadapi adalah perbedaan karakter shuttlecock di setiap turnamen.
"Dalam tiga turnamen ini, kami harus cepat beradaptasi dengan perubahan situasi lapangan. Kami belum maksimal menyesuaikan diri, terutama dengan kondisi shuttlecock yang berbeda," papar Raymond.
Kondisi di Orleans, katanya, terasa berbeda. Hal sekecil apapun, seperti kecepatan dan daya pantul kok, bisa langsung mempengaruhi permainan.
Di sisi lain, Nikolaus Joaquin punya pandangan lain yang tak kalah penting. Baginya, selain faktor teknis, ada hal mendasar yang perlu dibenahi: mental.
"Kami harus belajar mengontrol emosi. Tur Eropa dengan tiga turnamen ini tidak mudah, terutama dalam menjaga fokus pikiran. Ini harus kami perkuat," tegas Joaquin.
Dia meyakini, ketenangan pikiran adalah fondasi untuk menjalankan strategi. Saat emosi naik, keputusan jadi kurang jernih dan permainan pun mudah dipatahkan lawan.
Jadi, apa langkah selanjutnya? Kekalahan ini jelas jadi bahan bakar. Untuk pasangan muda ini, setiap laga adalah sekolah. Mereka pulang membawa dua PR besar: memperbaiki konsistensi teknis dan menguatkan mental bertanding.
Targetnya jelas: tampil lebih solid dan tak gampang goyah di turnamen-turnamen mendatang. Perjalanan masih panjang.
Artikel Terkait
Persija Targetkan 60 Ribu Penonton di Laga Lawan Persib, Siap Buka Tier 3 JIS
Borneo FC Kalahkan Persita 2-0, Samakan Poin dengan Persib di Puncak Klasemen Super League
Barcelona Masuk Perburuan Eli Junior Kroupi, Bournemouth Pasang Harga Rp1,4 Triliun
Legenda MU Sesali Kepergian Hojlund ke Napoli: Potensi Besar yang Hilang