Di sisi lain, para pelaku usaha sedang berusaha ekstra hati-hati. Mereka enggan mengambil risiko dengan menimbun stok bahan baku di saat harga sedang melambung tinggi seperti sekarang. Fajar bilang, pelajaran pahit dari krisis 1998 dan 2008 masih membekas.
"Lihat saja tahun 2008. Harga bahan baku plastik bisa mentok di 2.100 dolar AS per metrik ton, eh besoknya anjlok ke 1.200 dolar. Banyak yang gulung tikar karena kebanyakan stok. Situasi seperti itulah yang kami hindari sekarang. Ketidakpastian ini di luar kendali kita, nggak ada yang bisa prediksi kapan berubahnya," jelasnya.
Sementara itu, upaya diversifikasi memang sedang digenjot. Kementerian Perdagangan disebut sedang menggarap pencarian pemasok dari negara-negara selain Timur Tengah. Para produsen sendiri juga dikabarkan sedang memproses opsi bahan baku alternatif pengganti nafta.
Latar belakang semua gerakan ini adalah lonjakan harga kemasan plastik di pasaran yang hampir mencapai 50 persen. Kenaikan itu sudah mulai dikeluhkan banyak pedagang, mulai dari pasar tradisional sampai usaha mikro dan kecil di pertokoan. Mereka yang paling merasakan dampak langsung dari gejolak di hulu industri ini.
Artikel Terkait
Pemerintah dan BUMN Bangun 324 Hunian Baru di Kawasan Senen
ATR/BPN Imbau Masyarakat Waspada Penipuan Pengukuran Tanah
Konflik Timur Tengah Paksa Industri Plastik Nasional Hitung Ulang Biaya Produksi
Mentan Siapkan Lima Strategi Mitigasi Hadapi Ancaman El Nino 2026