Harga Minyak Melonjak di Atas USD111, Pasar Waspada Ketegangan Teluk Persia

- Senin, 06 April 2026 | 07:35 WIB
Harga Minyak Melonjak di Atas USD111, Pasar Waspada Ketegangan Teluk Persia

Harga minyak dunia melonjak gila-gilaan sepanjang pekan lalu. Pemicunya? Ketegangan di Teluk Persia yang makin panas, bikin para pelaku pasar dagdigdug menanti pembukaan perdagangan Senin (6/4/2026). Intinya, mereka lebih takut pasokan bakal terganggu ketimbang berharap situasi akan reda. Jadi, semua mata tertuju ke perkembangan di Timur Tengah selama akhir pekan.

Data perdagangan Kamis lalu menunjukkan kenaikan yang fantastis. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Mei melesat 11 persen, ditutup di angka USD111,54 per barel. Itu level tertinggi dalam hampir empat tahun! Secara mingguan, kenaikannya sekitar 10,75 persen. Sementara itu, Brent untuk kontrak Juni juga tak kalah kuat, naik 7,8 persen ke posisi USD109,03 per barel.

Nah, buat awal pekan ini, pergerakan harga minyak pasti masih jadi tontonan utama. Pasar akan mencerna setiap berita segar dari Teluk, mulai dari potensi macetnya jalur pengiriman sampai dinamika konflik terbaru.

Menurut analis FXEmpire, Christopher Lewis, level USD100 per barel adalah area krusial buat WTI dan Brent.

"Level itu kemungkinan bakal jadi zona support yang kuat kalau harga terkoreksi dalam jangka pendek," ujarnya.

Tapi ya, prediksi teknis kadang tak berarti banyak di tengah gejolak geopolitik. Arah harga minyak sepekan ke depan sangat bergantung pada apa yang terjadi di Teluk Persia, terutama di sekitar Selat Hormuz yang legendaris itu. Kalau ketegangan makin menjadi atau ada serangan ke infrastruktur energi dan kapal tanker, harga bisa terus meroket. Sebaliknya, kalau tiba-tiba ada sinyal perdamaian atau jalur pelayaran dibuka, penurunan harga sangat mungkin terjadi.

Situasinya benar-benar cair. Pasar harus jeli memantau perkembangan di hari-hari awal pekan ini. Mungkin saja ada kesepakatan dadakan yang memungkinkan kapal tanker melintas lagi, atau justru serangan yang malah memperkeruh suasana.

Di sisi lain, WTI dapat perhatian ekstra karena tensi antara AS dan Iran yang makin memuncak. Minyak AS ini bahkan sempat ditutup di atas USD112 per barel, dan sudah melonjak lebih dari 104 persen dari titik terendah tahun ini. Minat terbuka di kontrak berjangka juga terus merangkak naik, tanda spekulan ramai-ramai masuk.

Tekanan geopolitik makin kuat setelah Presiden AS, Donald Trump, memberi ultimatum 10 hari kepada Iran yang tenggat waktunya berakhir di awal pekan ini. Trump menegaskan kemungkinan serangan ke infrastruktur vital Iran. Sementara itu, laporan Reuters menyebut Israel sudah siap melakukan operasi militer setelah dapat lampu hijau dari Washington.

Iran sendiri tak tinggal diam. Mereka dikabarkan mengancam akan balik menyerang infrastruktur energi di kawasan, termasuk di Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, dan Israel. Targetnya bisa saja jalur-jalur energi utama yang jadi urat nadi pasokan global.

Bayangkan kalau Selat Hormuz sampai ditutup. Ditambah potensi gangguan di Laut Merah yang menyumbang sekitar 12 persen pasokan minyak dunia, risiko lonjakan harga jadi makin nyata. Semua faktor ini bikin pasar energi waspada setinggi-tingginya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar