Kalau dilihat, negara-negara maju hampir seragam bersikap. Dari sembilan pertemuan kebijakan yang digelar bulan itu, delapan di antaranya berakhir dengan keputusan suku bunga tak berubah. Hanya Australia yang bergerak, menaikkan biaya pinjam sebesar 25 basis poin. Untuk pemotongan suku bunga? Nihil. Tidak ada satu pun negara maju utama yang berani memangkasnya di tengah situasi seperti ini.
Di sisi lain, dunia berkembang menunjukkan sedikit variasi, meski sikap hati-hati tetap dominan. Dari 15 pertemuan, sepuluh bank sentral memilih bertahan. Empat lainnya baru melakukan pemotongan, itupun dengan porsi yang sangat moderat. Tapi ada satu pengecualian yang mencolok: Kolombia. Berbeda dengan yang lain, mereka justru memperketat kebijakan secara agresif dengan menaikkan suku bunga acuan hingga 100 basis poin.
Yang menarik, beberapa bank sentral secara gamblang menyebutkan sumber ketidakpastian ini. Bank Indonesia, misalnya, bersama dengan Afrika Selatan, Filipina, Hongaria, dan Republik Ceko, secara eksplisit menyoroti konflik di Timur Tengah. Mereka khawatir dampaknya terhadap inflasi, dan itulah yang jadi alasan untuk menunda atau membatasi rencana pemotongan suku bunga. Intinya, perang di sana bukan cuma soal geopolitik, tapi sudah merambah ke ruang rapat kebijakan moneter kita semua.
Artikel Terkait
Persib Ungguli Semen Padang 1-0 di Stadion Agus Salim
Pemerintah Gulirkan KUR Ekraf Rp10 Triliun, Kekayaan Intelektual Bisa Jadi Agunan
Iran Klaim Gagalkan Misi Penyelamatan AS, Washington Sebut Pilot F-15E Berhasil Dievakuasi
JK Usul Pangkas Subsidi BBM untuk Tekan Defisit Anggaran