Maret 2026 menjadi bulan penuh kehati-hatian bagi para gubernur bank sentral di berbagai belahan dunia. Di tengah memanasnya ketegangan geopolitik khususnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel sebagian besar lembaga moneter itu memilih untuk berdiam diri. Mereka menahan suku bunga kebijakan, menunda langkah-langkah pelonggaran yang sebelumnya mungkin sudah diincar.
Langkah ini, seperti dilaporkan CNA awal April lalu, bukan tanpa alasan. Ada dua kekuatan yang saling tarik-menarik: ancaman inflasi yang bisa melonjak dan prospek pertumbuhan ekonomi yang justru melemah. Situasinya memang rumit. Harga minyak yang bergejolak, ditambah risiko perang yang tak jelas ujungnya, membuat keputusan moneter jadi seperti berjalan di atas tali.
“Dibutuhkan waktu bagi bank-bank sentral untuk menilai besarnya guncangan (harga minyak),”
begitu penjelasan analis JPMorgan dalam sebuah laporan. Mereka butuh jeda, butuh waktu untuk melihat arah angin.
Artikel Terkait
Persib Ungguli Semen Padang 1-0 di Stadion Agus Salim
Pemerintah Gulirkan KUR Ekraf Rp10 Triliun, Kekayaan Intelektual Bisa Jadi Agunan
Iran Klaim Gagalkan Misi Penyelamatan AS, Washington Sebut Pilot F-15E Berhasil Dievakuasi
JK Usul Pangkas Subsidi BBM untuk Tekan Defisit Anggaran