Di tengah bayang-bayang krisis energi global, muncul usulan yang bisa dibilang cukup berani dari mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Ia mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan pemotongan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Tujuannya jelas: menahan laju defisit anggaran negara yang kian mengkhawatirkan.
Latar belakang usulan ini adalah situasi internasional yang memanas. Perang di Timur Tengah, kata JK, telah memicu kekhawatiran serius akan krisis pasokan energi. Ini bukan lagi isapan jempol, tapi ancaman riil yang harus diantisipasi.
Ditemui di kediamannya di kawasan Brawijaya, Jakarta Selatan pada Minggu lalu, JK menjelaskan alasan di balik gagasannya.
"Kita minta agar dipertimbangkan untuk mengurangi defisit, mengurangi utang dengan cara mengurangi subsidi. Karena mengurangi subsidi berarti menaikkan harga. Dan itu dilakukan di banyak negara," ujarnya.
Menurutnya, mempertahankan harga BBM murah justru punya efek samping. Orang jadi enggan berhemat. Aktivitas mobilisasi dengan kendaraan pribadi akan tetap tinggi selama BBM terasa murah di kantong. Di sisi lain, beban subsidi bagi negara akan terus membengkak dari tahun ke tahun.
"Nah kalau meningkat terus maka utang naik terus," tambahnya.
JK tak menampik bahwa kebijakan menahan harga di tengai krisis terlihat populer dan baik di awal. Namun begitu, dampaknya hanya sementara. Yang terjadi kemudian, utang negara bisa menumpuk diam-diam karena harus menanggung beban subsidi yang besar.
Tentu saja, langkah mengurangi subsidi adalah langkah yang sensitif. JK paham betul ini bisa memicu gelombang protes. Tapi pengalamannya selama dua dekade memberi keyakinan lain.
"Pengalaman saya 20 tahun memang kalau dijelaskan kepada rakyat dengan baik, rakyat akan menerima. 2005, 2014, tidak ada demo karena kita jelaskan dengan baik. Apalagi ini masalah eksternal," tuturnya.
Pesan intinya sederhana: komunikasi yang jujur dan transparan dari pemerintah adalah kunci untuk meredam gejolak. Rakyat, menurutnya, akan mengerti jika situasinya diterangkan dengan jelas.
Artikel Terkait
PEVS 2026 Siap Digelar di Jakarta, Pameran Kendaraan Listrik Gratis Mulai 29 Oktober
Amri/Nita Gagal Manfaatkan Empat Match Point, Tersingkir Dramatis dari Malaysia Masters
422 Relawan Global Sumud Flotilla Tiba di Istanbul Usai Dideportasi Israel
Polda Metro Jaya Ubah Pasal Kasus Ijazah Palsu Jokowi Usai Berkas Dilimpahkan ke Kejaksaan, Pengacara Dokter Tifa Pertanyakan Keanehan Prosedur