Kekecewaan mendalam menyelimuti pasangan ganda campuran Indonesia, Amri Syahnawi dan Nita Violina Marwah, setelah mereka gagal memanfaatkan empat poin krusial yang seharusnya menjadi tiket menuju kemenangan. Berlaga di babak 16 besar Malaysia Masters 2026, mereka harus mengakui keunggulan unggulan kedua asal Malaysia, Chen Tang Jie/Toh Ee Wei, dengan skor 19-21 dan 20-22 di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Kamis (21/5/2026).
Kekalahan ini terasa semakin pahit karena pasangan Indonesia sempat berada di ambang kemenangan pada game kedua. Unggul 20-16, mereka hanya butuh satu poin tambahan untuk memaksakan pertandingan berlanjut ke game ketiga. Namun, momentum pertandingan berubah drastis. Pasangan Malaysia berhasil mencetak enam angka beruntun, membalikkan keadaan, dan memastikan kemenangan dramatis di hadapan publik sendiri.
Nita Violina Marwah mengakui hasil ini menjadi pukulan berat. Menurutnya, secara permainan, mereka sebenarnya mampu mengimbangi bahkan menekan lawan di beberapa momen penting.
“Jalannya pertandingan hari ini, sebenarnya pola mainnya sudah sesuai. Namun, di game pertama setelah bisa mengejar ketertinggalan, kami malah tidak bisa memanfaatkan kesempatan,” ujar Nita dalam pernyataan resmi yang diterima dari PBSI.
Dia juga menyoroti hilangnya momentum saat sudah berada di ambang kemenangan pada game kedua. Menurut dia, keberanian mengambil keputusan di poin-poin akhir masih menjadi kekurangan terbesar pasangan Indonesia.
“Game kedua kami sudah unggul 20-16, malah momentumnya jadi berbalik. Ini menjadi evaluasi bagi kami. Secara pola, kami bisa mengimbangi, namun di poin akhirnya kami harus berani lebih nekat,” tuturnya.
Nita menegaskan bahwa dirinya dan Amri tampil tanpa tekanan saat melawan wakil tuan rumah. Ia justru menilai beban lebih besar berada di pihak lawan yang memiliki peringkat lebih tinggi.
“Melawan wakil tuan rumah sebenarnya kami tidak ada beban dan lebih leluasa, karena bebannya pasti di mereka, apalagi secara ranking mereka di atas kami,” ungkapnya.
Sementara itu, Amri Syahnawi mengakui bahwa pasangan Indonesia kehilangan ketenangan saat momen penentuan tiba. Padahal, menurut dia, mereka sempat cukup banyak mengendalikan permainan sepanjang laga.
“Kami mainnya sudah benar, bahkan sempat banyak memegang kendali permainan. Namun, eksekusi kami kurang nekat dan kurang tenang,” ujar Amri.
“Jadinya bola yang seharusnya jadi poin malah jadi boomerang buat kami. Evaluasi kami ada teknik yang harus kami benahi serta harus bermain lebih berani lagi dan fokus per poin,” katanya.
Artikel Terkait
Kejagung Tetapkan Pengusaha Sudianto Tersangka Korupsi Izin Tambang Bauksit di Kalbar
Kemlu Sebut Pembentukan PT Danantara adalah Reformasi Tata Kelola, Pantau Respons Internasional
Gol Penentu di Menit Akhir, Dusan Lagator Buktikan Diri Layak Dipertahankan PSM Makassar
Operasi Gabungan di Blok M Amankan 13 Juru Parkir Liar, Petugas Lakukan Pembinaan