Sabtu lalu (4/4), suasana Desa Sekumur di Aceh Tamiang terasa berbeda. Kehadiran Tito Karnavian, sang Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera yang juga Mendagri, mengundang perhatian. Ia datang bukan sekadar seremonial. Tito ingin melihat sendiri kondisi di lapangan dan ngobrol langsung dengan warga yang masih berjuang bangkit dari bencana akhir November tahun lalu.
Pertemuan itu sederhana, beralaskan tikar. Tapi isinya berat. Sekitar 200 orang berkumpul, menyampaikan satu persatu persoalan yang mereka hadapi sejak musibah menerjang. Mulai dari kesulitan air bersih yang akut hingga ketiadaan rumah yang layak huni. Suasana haru dan harapan berbaur di udara.
Di tengah kerumunan itu, Mijah menyampaikan keluhannya langsung kepada Tito. Hidup pascabencana terasa getir tanpa kepastian.
"Pak ini pak.. tolong kalau bisa secepatnya dibuatkan sumur bor. Air bersih sudah sulit sekali di sini. Rumah kami juga semua sudah banyak yang hilang," ujarnya.
Harapan serupa juga disampaikan Deri, penyintas lainnya. Ia mendesak agar pemerintah segera menangani fasilitas sanitasi dan memulihkan ekonomi warga yang porak-poranda.
"Harapan kami agar akses jalan kami yang sulit juga diperbaiki. Segala program pemulihan kampung kami mohon segera dipercepat. Itu harapan kami," ungkap Deri.
Sebenarnya, Mijah dan Deri sempat pesimis. Lokasi desa mereka yang jauh dan aksesnya sulit membuat mereka tak terlalu berharap perhatian pemerintah akan sampai. Namun, kedatangan Tito mengikis keraguan itu. "Kami-kami orang enggak nyangka bakal datang, karena untuk sampai ke sini pertama aksesnya sulit dan jauh. Tapi ternyata Bapak Mendagri beneran sampai ke sini. Ya alhamdulilah kondisi kami bisa dilihat dari dekat," sambung Mijah.
Rasa lega pun terasa. Setidaknya, suara mereka sudah didengar oleh orang nomor satu di Kementerian Dalam Negeri.
"Saya langsung sampaikan saja ke Bapak Mendagri apa yang kami rasakan dan butuhkan soal air bersih dan huntap. Saya merasa plong, sudah menyampaikannya, biarpun belum tahu kapan (dieksekusi), tapi paling enggak sudah menyampaikan," kata Mijah.
Menanggapi hal ini, Tito menjelaskan bahwa kunjungannya memang sengaja dilakukan untuk memastikan para penyintas tidak terlalu lama terpuruk. Dalam dialog itu, ia menyerap aspirasi warga, terutama soal kebutuhan mendesak akan sumur bor dan hunian sementara (huntap) komunal.
Menariknya, mayoritas warga justru memilih opsi hunian tetap komunal. Alasannya cukup kuat: sebagian besar wilayah tempat tinggal mereka rawan banjir akibat luapan sungai. Sebuah pilihan yang mencerminkan kearifan lokal dan kesadaran akan ancaman yang mungkin berulang.
Artikel Terkait
Parlemen Ghana Sahkan UU Anti-LGBTQ Paling Represif, Nasib Kini di Tangan Presiden Mahama
Wapres Gibran Dorong PERDISKI Jadi Garda Terdepan Perjuangkan Kesejahteraan Guru
WHO: Tingkat Kematian Ebola Bundibugyo Capai 50 Persen, Vaksin Baru Tersedia dalam Beberapa Bulan
AS Resmi Tetapkan Dua Geng Kriminal Brasil sebagai Organisasi Teroris, Lula Protes Keras