Selain biodiesel, Deen juga mendorong diversifikasi lewat pengembangan etanol dari sorgum atau ketela sebagai pengganti bensin. Pengembangan Dimethyl Ether (DME) untuk substitusi LPG juga dinilai penting. Menurutnya, krisis justru bisa jadi momentum bangkitkan riset energi di perguruan tinggi.
"Ketika harga gas naik karena rantai pasoknya terganggu, dikembangkanlah energi terbarukan. Permasalahan ini menjadi momentum kebangkitan energi," tuturnya.
Nah, ancaman lain datang dari alam. BMKG memprediksi El Nino akan muncul di paruh kedua 2026. Dampaknya bakal luas: dari pertanian sampai pembangkit listrik tenaga air bisa terpukul. Harga BBM yang naik bisa pengaruhi banyak hal, termasuk operasional pompa air untuk lahan pertanian di musim kemarau.
Untuk itu, alternatif seperti mikroalga, biodiesel, atau tenaga surya perlu digenjot. Intinya, menurut Deen, pengembangan energi nasional butuh perencanaan matang dan konsisten. RUEN harus jadi panduan yang benar-benar dijalankan, bukan sekadar dokumen.
Yang tak kalah penting, industri energi dalam negeri baik fosil maupun terbarukan harus dikuatkan. Tujuannya jelas: kurangi impor dan putar roda ekonomi domestik lebih cepat.
"Kalau industrinya tumbuh dan berasal dari dalam negeri, akan membuat ekonomi negara berputar lebih cepat," ujarnya. Tapi ia mengingatkan, "Jangan sampai memiliki kebijakan energi nasional tetapi tetap mendorong impor."
Jadi, jalan masih panjang. Ancaman nyata ada di depan mata, tapi kesempatan untuk berbenah juga masih terbuka lebar.
Artikel Terkait
Justin Hubner Terancam Izin Kerja di Belanda Meski Berstatus Homegrown di Inggris
Min Aung Hlaing Resmi Dilantik sebagai Presiden Myanmar Setelah Lima Tahun Berkuasa
Iran Lancarkan Serangan Rudal Besar-besaran, Hantam Israel dari Negev hingga Tel Aviv
Iran Tolak Proposal Gencatan Senjata 48 Jam dari AS, Tuntut Perdamaian Permanen