Min Aung Hlaing Resmi Dilantik sebagai Presiden Myanmar Setelah Lima Tahun Berkuasa

- Sabtu, 04 April 2026 | 11:15 WIB
Min Aung Hlaing Resmi Dilantik sebagai Presiden Myanmar Setelah Lima Tahun Berkuasa

YANGON Setelah lima tahun memegang kendali negara, Jenderal Min Aung Hlaing akhirnya resmi menduduki kursi kepresidenan Myanmar. Peristiwa bersejarah ini terjadi Jumat (3/4/2026) di parlemen, di mana pria berusia 69 tahun itu berhasil mengumpulkan suara mayoritas. Dengan demikian, dia kini tercatat sebagai presiden ke-11 negara itu.

Siaran stasiun televisi pemerintah MRTV mengonfirmasi berita tersebut. Menurut laporan mereka, lebih dari setengah anggota Union Parlemen di Naypyidaw memberikan dukungan untuk Min.

“Dari 584 legislator yang hadir, Min Aung Hlaing memperoleh 429 suara,” demikian bunyi siaran itu.

Perlu diingat, parlemen Myanmar bersifat bikameral dengan total 664 kursi. Terdiri dari 440 kursi di majelis rendah dan 224 di majelis tinggi.

Jalan Min ke istana kepresidenan tentu saja berliku. Dia sebelumnya adalah panglima tertinggi Tatmadaw, posisi yang dipegangnya sejak 2011. Baru pada Maret 2026 lalu dia mundur dari jabatan militer itu langkah yang jelas-jelas untuk membuka jalan pencalonannya sebagai presiden.

Posisinya sebagai panglima pun langsung diisi. Ye Win Oo, mantan kepala intelijen, sudah mengambil alih peran tersebut sejak awal pekan ini.

Namun begitu, kenyataannya Min sudah menjadi penguasa de facto Myanmar jauh sebelum pemilihan parlemen ini. Semuanya berawal dari kudeta militer 2021 yang dipimpinnya, yang menggulingkan pemerintahan sipil pimpinan Aung San Suu Kyi. Kudeta itu bukan cuma membubarkan partai Liga Nasional untuk Demokrasi, tapi juga memicu konflik bersenjata yang hingga kini masih menyala-nyala, memecah belah negara.

Setelah lima tahun penuh gejolak, Min kemudian mengawasi proses pemilu tiga tahap. Dimulai akhir Desember 2025, pemilu itu akhirnya dimenangkan oleh kubu pro-militer, terutama Partai Persatuan Solidaritas dan Pembangunan. Parlemen bentukan baru itu sendiri baru menggelar sidang perdananya pada pertengahan Maret lalu.

Di sisi lain, kepemimpinan Min selama ini tak lepas dari sorotan dunia. Myanmar kerap dikutuk keras oleh komunitas internasional, terutama terkait persoalan minoritas Rohingya. Kampanye militer brutal di tahun 2017 silam masih membekas dalam ingatan. Operasi itu memaksa lebih dari satu juta warga Muslim Rohingya meninggalkan rumah mereka, mengungsi ke Bangladesh untuk menyelamatkan nyawa.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler