Iran Tolak Proposal Gencatan Senjata 48 Jam dari AS, Tuntut Perdamaian Permanen

- Sabtu, 04 April 2026 | 10:00 WIB
Iran Tolak Proposal Gencatan Senjata 48 Jam dari AS, Tuntut Perdamaian Permanen

TEHERAN – Proposal Amerika Serikat soal gencatan senjata 48 jam ditampik mentah-mentah oleh Iran. Bagi para pejabat di Teheran, penghentian perang yang ditawarkan itu cuma sementara. Padahal, yang mereka inginkan adalah perdamaian permanen. Di sisi lain, Iran juga sudah menyodorkan sejumlah tuntutannya sendiri kepada Washington.

Menurut laporan kantor berita Fars yang mengutip sumber resmi, proposal AS itu disampaikan lewat perantara. Negara ketiga itu tak disebutkan namanya, dan dokumennya sampai pada Rabu lalu. Yang masih jadi tanda tanya: apakah Israel ikut serta dalam usulan ini? Soalnya, serangan ke Iran terjadi hampir bersamaan.

Presiden AS Donald Trump beberapa kali bilang kalau Iran-lah yang minta berunding untuk hentikan perang. Tapi klaim itu dibantah habis-habisan oleh pejabat Iran. Mereka bersikeras, perang tidak akan berakhir sebelum AS setidaknya memberi kompensasi atas segala kerusakan yang dialami Iran sejak konflik meletup akhir Februari lalu.

“Kami tidak tertarik pada jeda singkat. Kami butuh solusi tetap,” kira-kira begitu sikap yang tercium dari para pejabat di sana.

Upaya mediasi lain juga tampak mandek. The Wall Street Journal melaporkan, Pakistan yang mencoba jadi penengah menemui jalan buntu. Penyebabnya sederhana: Iran ogah bertemu dengan perwakilan AS di Islamabad. Belum lagi, tuntutan yang diajukan Washington dinilai tidak bisa diterima sama sekali.

Lalu, apa sebenarnya tuntutan Iran? Mereka meminta penarikan seluruh pasukan AS dari setiap pangkalan militer di Timur Tengah. Tak cuma itu, ganti rugi juga harus dibayar untuk kerusakan infrastruktur vital sekolah, rumah sakit, dan fasilitas publik lainnya hancur berantakan.

Sementara itu, Qatar disebut-sebut menolak tekanan untuk bertindak sebagai mediator. AS dan beberapa negara kawasan mendesak Doha memainkan peran itu. Tapi sejauh ini, Qatar tetap tidak mau. Situasinya jadi makin rumit, dan prospek gencatan senjata dalam waktu dekat tampaknya masih sangat suram.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar