Gejolak politik dunia yang lagi panas, ditambah ancaman kemarau panjang karena El Nino, bikin was-was soal ketahanan energi kita. Ini bukan omong kosong. Pemerintah kemungkinan besar bakal kesulitan memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri, apalagi kalau sampai jalur distribusi penting seperti Selat Hormuz ikut-ikutan bermasalah.
Masalahnya makin runyam karena kita masih sangat bergantung pada impor. Sekitar seperlima kebutuhan minyak tanah kita, misalnya, masih datangkan dari Timur Tengah. Cukup mengkhawatirkan, bukan?
Guru Besar Fakultas Teknik UGM, Profesor Deendarlianto, buka suara soal ini. Menurut dia, cadangan energi nasional kita cuma cukup untuk 20 sampai 22 hari saja kalau pasokan baru terhenti.
"Kalau dalam 22 hari tidak masuk pasokan baru akan berisiko besar bagi industrialisasi, transportasi, kelistrikan, hingga potensi gejolak sosial," tegas Deen, seperti dikutip akhir pekan lalu.
Logikanya sederhana: kebutuhan minyak kita sehari mencapai 1,5 juta barel. Sementara produksi dalam negeri cuma sanggup menyediakan sekitar 600 ribu barel. Ya, selisih yang cukup besar itu terpaksa ditutup dengan impor.
Di sisi lain, langkah antisipasi pemerintah patut diapresiasi. Deendarlianto mencontohkan kebijakan B50 pencampuran biodiesel ke dalam solar yang rencananya berlaku mulai Juli 2026. Itu salah satu cara jitu untuk tekan ketergantungan impor.
Tapi, bukan berarti semua rencana bisa langsung diterapkan begitu saja. Soal wacana Work From Home (WFH) misalnya, menurut dia masih perlu dikaji lebih dalam.
"Saya pikir itu ide yang baik, namun perlu dilakukan pengkajian yang lebih dalam lagi dan tidak untuk dijadikan generalisasi," katanya.
Artikel Terkait
Justin Hubner Terancam Izin Kerja di Belanda Meski Berstatus Homegrown di Inggris
Min Aung Hlaing Resmi Dilantik sebagai Presiden Myanmar Setelah Lima Tahun Berkuasa
Iran Lancarkan Serangan Rudal Besar-besaran, Hantam Israel dari Negev hingga Tel Aviv
Iran Tolak Proposal Gencatan Senjata 48 Jam dari AS, Tuntut Perdamaian Permanen